Tampilkan postingan dengan label EMISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label EMISI. Tampilkan semua postingan

Jumat, Maret 28, 2008

'Car Free Day' Turunkan Polusi Jakarta

'Car Free Day' Turunkan Polusi Jakarta

Jakarta--MI: Kegiatan rutin menutup jalan utama di Jakarta yakni Jalan MH Thamrin dan Jalan Sudirman setiap Minggu pagi bagi kendaraan bermotor dinilai mampu mengurangi polusi udara. "Ini terlihat dari meningkatnya jumlah hari baik di Jakarta," kata Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta Budirama Natakusumah di Jakarta, Rabu (26/3).


Tahun 2007 hari baik (bebas polusi) di Jakarta adalah sebanyak 73 hari, bertambah 28 hari dari 45 hari bersih pada 2006. Tahun 2008 ditargetkan hari bebas polusi sebanyak 100 hari. Kesuksesan penyelenggaraan Car Free Day (hari bebas kendaraan bermotor) mengurangi polusi udara menyebabkan program itu diperluas ke setiap kota madya di DKI Jakarta.


Di Jakarta Selatan Car Free Day akan dilakukan di Jalan Wijaya, Jakarta Utara akan diselenggarakan di Jalan Danau Sunter, Jakarta Barat akan diselenggarakan di Kawasan Kota Tua. "Untuk Jakarta Pusat, saya belum tahu mana yang dipilih. Untuk Jakarta Timur, antara Jalan Pramuka atau Jalan Pemuda. Kemungkinannya masih dikaji karena kita harus koordinasikan semuanya dengan polda dan dishub," papar Budirama.


Pelaksanaan hari bebas asap kendaraan bermotor itu adalah sesuai dengan Perda No 2/2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara untuk menyukseskan program Langit Biru Jakarta. Car Free Day akan dilaksanakan kembali pada Minggu (30/3) mulai pukul 06.00-14.00 WIB dan Jalan Sudirman dan Jalan Thamrin akan ditutup bagi kendaraan pribadi dan kendaraan umum yang rutenya tidak melewati kedua jalan itu. Selain bus TransJakarta dan angkutan umum yang biasanya melewati kedua jalan protokol itu, kendaraan bermotor akan dilarang melalui jalan-jalan itu.


Kesempatan itu disebut Budirama dapat digunakan masyarakat Jakarta untuk menikmati udara segar tanpa polusi dan menyaksikan pemandangan yang tidak biasa, yaitu lengangnya Jalan Sudirman dan Jalan Thamrin yang biasanya dijejali kendaraan bermotor. "Masyarakat bisa melakukan berbagai aktivitas seperti berolahraga di jalan ini," kata Budirama.


Car Free Day tersebut sudah dilaksanakan sebanyak enam kali dan dari pengamatan, jalan luas tersebut yang sedang kosong itu biasanya digunakan untuk berolahraga seperti bulu tangkis, sepak bola dan bersepeda. (Ant/OL-03)


Sumber :

http://www.mediaindonesia.com/
Kamis, 27 Maret 2008 05:24 WIB

Jumat, Januari 11, 2008

Kesadaran Uji Emisi Rendah

Kesadaran Uji Emisi Rendah

JAKARTA-- Kesadaran pemilik kendaraan untuk uji emisi masih rendah. Oleh karena itu, BPLHD Jakarta Pusat akan terus melakukan sosialisasi dan upaya penegakan hukum kepada para pengendara.

''Program uji emisi harus memiliki kontinuitas,'' ujar Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jakarta Pusat, A Malik, Rabu (3/1). Sosialisasi yang dilakukan berupa uji emisi gratis yang sudah sering dilaksanakan. Sebagai kelanjutan sosialisasi itu pada 19 Januari 2008 pihaknya akan melakukan penegakan hukum bagi pengendara yang belum uji emisi atau masa berlaku uji emisinya telah habis.

Penegakan hukum dilakukan dengan menjaring kendaraan-kendaraan yang berada di jalan. Petugas akan memeriksa dokumen-dokumen yang berkaitan dengan uji emisi. ''Pengendara yang belum melakukan uji emisi atau masa berlaku uji emisinya habis akan dikenakan sanksi,'' kata Malik. Itu bertujuan untuk memberikan efek jera kepada pengendara.

Sebelum melaksanakan penegakan hukum pada 19 Januari 2008, BPLHD Jakpus telah melakukan penandatanganan Surat Keputusan Bersama (SKB) dengan kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan. ''Dasar hukumnya adalah Peraturan Daerah (Perda) No 2 Tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara,'' tegas Malik.

Bagi pengendara yang belum melaksanakan uji emisi, BPLHD Jakpus akan memberikan semacam surat pengantar untuk melakukan uji emisi di bengkel-bengkel yang bisa melakukan uji emisi. Saat ini, di Jakarta terdapat lebih dari 200 bengkel yang melayani uji emisi. Tarif uji emisi tersebut tergantung pihak bengkel.

Terkait dengan pelaksanaan program uji emisi, BPLHD Jakpus berencana untuk menjadikan Jl Sudirman-Thamrin sebagai kawasan terpadu yang bebas rokok dan emisi. ''Saat ini Jl Sudirman-Thamrin merupakan Kawasan Dilarang Merokok (KDM),'' kata Malik.

Fauzan, seorang pengendara mobil di Jl Budi Kemulyaan, mengaku, dia sudah melakukan uji emisi beberapa waktu yang lalu. ''Saya lupa kapan masa berlakunya akan berakhir,'' ujar karyawan perusahaan swasta ini. Fauzan setuju jika pengendara yang belum melaksanakan uji emisi akan dikenai sanksi. n c54

Sumber :
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=318754&kat_id=286
Kamis, 03 Januari 2008

Selasa, Desember 18, 2007

Emisi Karbon Dunia Naik Tiga Kali Lipat

Emisi Karbon Dunia Naik Tiga Kali Lipat


TEMPO Interaktif, Jakarta - Rata-rata emisi tahunan karbon dioksida di dunia meningkat pesat tiga kali lipat pada kurun mulai tahun 2000 hingga sekarang, bila dibandingkan dengan era tahun 1990-an. Berdasarkan penelitian yang dilaporkan dalam "Proceeding of National Academy of Sciences" ditemukan fakta bahwa rata-rata pertambahan emisi karbon dioksida meningkat dari 1,1 persen per tahun pada 1990 menjadi 3,3 persen per tahun pada tahun 2000.


Koordinator peneliti, Mike Raupach, dari CSIRO Marine and Atmospheric Research and the Global Carbon Project, mengatakan pada tahun 2005 secara global 8 juta ton karbon dioksida telah mencemari atmosfer. Meningkat pesat bila dibandingkan tahun 1995 yang hanya 6 juta ton. "Faktor pendorong utama dari peningkatan emisi, secara global, adalah meningkatnya pembakaran karbon per satu dolar kesejahteraan yang dihasilkan," kata Raupach dalam siaran persnya, Selasa (5/6). Emisi karbon dioksida yang berasal dari bahan bakar fosil ini merupakan faktor pendorong utama terjadinya perubahan iklim dunia.

Menurut Raupach, belakangan ini penggunaan energi fosil secara global menjadi sangat tidak efektif. Pertambahan ini semakin melonjak seiring meningkatnya populasi dan kesejahteraan. "Saat industri di dunia semakin berkembang, penggunaan energi fosil menjadi sangat intensif dan tidak efisien," tandasnya. Raupach menambahkan, sejumlah efisiensi memang telah dilakukan sejalan dengan pertumbuhan industri, namun ternyata tidak cukup sebanding। Walaupun perkembangan industri di negara maju seperti Australia dan Amerika Serikat cenderung stagnan, di negara berkembang seperti China semakin meningkat. Kedua faktor tersebut justru menurunkan efisiensi penggunaan bahan bakar fosil secara global. Ia mengatakan, di China, emisi yang dikeluarkan per orang masih di bawah rata-rata global। Berdasarkan angka rata-rata, di Australia dan Amerika per orang mengeluarkan emisi lebih dari 5 ton karbon pertahun. Sedangkan di China hanya satu ton pertahun.

Sejak revolusi industri dimulai, Amerika Serikat dan negara Eropa tercatat telah menyumbang 50 persen dari total emisi। Sedangkan China kurang dari 8 persen. Adapun 50 negara berkembang lain menyumbang kurang dari 0,5 persen dari emisi global selama 200 tahun, secara kumulatif. Raupach mengatakan Australia, dengan 0,32 persen dari populasi global, telah menyumbang 1,43 persen dari emisi karbon dunia। Ia menambahkan, sejauh ini upaya global untuk menurunkan emisi nyaris tidak mempengaruhi penggunaannya।Penelitian menunjukkan emisi gas dari bahan bakar fosil meningkat pesat dibandingkan dengan skenario yang telah ditetapkan oleh Panel Antar Pemerintah PBB mengenai Perubahan Iklim (IPCC).

"Temuan kami menunjukkan bahwa konsentrasi karbondioksida, temperatur global, dan naiknya permukaan laut, mendekati batas toleransi IPCC," katanya. Ninin Damayanti.


Sumber :
http://www.tempointeraktif.com/
Selasa, 05 Juni 2007 08:17 WIB