Tampilkan postingan dengan label FLORA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FLORA. Tampilkan semua postingan

Kamis, April 03, 2008

Eceng Gondok Ampuh Menyerap Limbah Industri

Eceng Gondok Ampuh Menyerap Limbah Industri

Surabaya, Rabu - Tanaman enceng gondok, mengkudu, dan beberapa tanaman lainnya terbukti mampu menjadi penyerap polutan dan limbah industri. "Sebaiknya, industri menyiapkan kolam khusus air limbah, kemudian ditanami enceng gondok, sehingga zat-zat polutan yang membahayakan dapat terbebaskan secara alami," kata ahli sanitasi lingkungan dan fitoteknologi, Prof.Sarwoko Mangkoedihardjo, MScES, di Surabaya, Rabu (23/1).


Guru besar ke-62 ITS yang akan dikukuhkan bersama Prof Ir Joni Hermana MScES PhD sebagai guru besar ke-63 ITS pada 26 Januari 2008 itu mengatakan, masyarakat selama ini hanya mengandalkan teknologi untuk mengolah limbah, padahal alam juga bisa dimanfaatkan dengan baik. "Ada beberapa jenis tanaman yang sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk membantu mengolah limbah, namun masyarakat dan pemerintah seringkali tidak sadar terhadap manfaat tanaman itu," kata ayah dua anak itu.


Padahal, kata suami Ny Marliani itu, tanaman seperti enceng gondok mampu menjadi penyerap polutan yang bagus, sehingga air yang dihasilkan dari kolam khusus yang ditanami enceng gondok itu tidak mencemari lingkungan. "Untuk tanaman darat, tanaman mengkudu juga mampu menyerap polutan dengan baik, mulai dari daun sampai akarnya, karena itu kawasan industri sebaiknya lebih banyak ditanami mengkudu," kata pria kelahiran Purbalingga pada 24 Agustus 1954 itu.


Kampanyekan ABR


Sementara itu, Guru Besar Teknik Lingkungan lainnya di ITS Prof Ir Joni Hermana MScES PhD sebagai ahli di bidang pengolahan air limbah tampak menyoroti banyaknya bangunan atau sistem sanitasi yang masih salah di masyarakat, terutama skala rumah tangga (RT). "Masyarakat Indonesia sebenarnya sudah mampu membuat sarana sanitasi, tapi karena kurang ada pengarahan yang tepat, sehingga sanitasi yang dibuat tetap saja menyebabkan pencemaran," katanya.


Menurut dekan FTSP ITS itu, pembuatan septic tank yang dibuat masyarakat selama ini memang cukup bagus tapi hanya individual, karena limbah yang tertampung di dalamnya tidak bisa lagi dimanfaatkan dengan baik oleh lingkungan sekitar. "Saya menyarankan alternatif untuk pembuangan limbah skala lingkungan dengan menggunakan teknologi ABR (Anaerobic Buffled Reactor) yakni semacam septic tank bersama yang bersekat-sekat menjadi beberapa ruang untuk mengolah limbah," katanya.


Apa pun limbah dari sejumlah rumah tangga, katanya, akan diolah secara ABR untuk akhirnya menjadi air bersih, namun bukan air bersih yang dapat diminum, karena di dalamnya masih banyak mengandung bakteri. "Kalau mau diminum harus ditambahkan biofilter pada tahapan akhir pengolahannya, diantaranya sabut kelapa, kerikil, ampas pembakaran, dan sebagainya seperti layaknya penyaringan air. Dengan demikian, semua limbah didaur ulang tanpa ada sisa," kata pria kelahiran Bandung pada 18 Juni 1960 itu.(ANT/WAH)


Sumber :
http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/01/23/19490011/eceng.gondok.ampuh.menyerap.limbah.industri

Rabu, 23 Januari 2008 | 19:49 WIB

Jumat, Maret 28, 2008

425 Ribu Jenis Flora dan Fauna Nyaris Punah

425 Ribu Jenis Flora dan Fauna Nyaris Punah

Reporter : Faishol Taselan

Surabaya--MI: Sekitar 25 ribu jenis flora dan 400 ribu fauna di Indonesia cenderung langka, bahkan hampir punah akibat berbagai sebab. Di antaranya, akibat kerusakan ekosistem dan habitat karena penjarahan, kebakaran hutan, perburuan, serta tingginya permintaan tumbuhan dan satwa liar secara legal maupun ilegal.


Hal tersebut dikatakan Kepala Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam Provinsi Jawa Timur (Jatim) Sumarto Suharno di Surabaya, Sabtu (15/3). "Kondisi ini diperparah dengan lemahnya pengawasan dan penegakan hukum terhadap pelaku penjarahan hutan," ujarnya. Menurutnya, kejahatan perdagangan ilegal satwa liar di dunia menempati urutan kejahatan kedua terbesar setelah narkoba. Kerugian finansial internasional akibat kejahatan itu mencapai US$159 miliar per tahun. Sedangkan di Indonesia, kejahatan itu merugikan negara sebesar Rp. 9 triliun per tahun.


Untuk menampung tumbuhan dan satwa liar yang makin langka tersebut, Pemerintah Provinsi Jatim membangun area riset terapan penangkaran tumbuhan dan satwa liar. Area yang berlokasi di lingkungan kantor Dinas Kehutanan Jatim itu menurut rencana akan diresmikan oleh Gubernur Imam Utomo, Senin (17/3).


Pembangunan area riset terapan, selain untuk pengembangan keilmuan penangkaran tenaga pengendali ekosistem hutan, juga untuk meningkatan kemitraan pakar dan jaringan komunitas konservasi sumberdaya alam di Jatim. "Penangkaran riset menerapkan standar kesejahteraan satwa, penandaan, pelepasliaran ke habitat alaminya, dan pengembangbiakan tanaman dan satwa liar dengan pendekatan kedokteran," ujarnya.(FL/OL-01)

Sumber :

http://www.mediaindonesia.com/
Sabtu, 15 Maret 2008 11:41 WIB

Jumat, Januari 04, 2008

Anggrek Hutan di Sumatera Barat Kian Terancam

Anggrek Hutan di Sumatera Barat Kian Terancam


Padang, Jumat - Jumlah anggrek alam (Corchdaceae) di kawasan hutan alam Provinsi Sumatera Barat, kini semakin terancam. Tindak kerusakan hutan dan aktivitas perburuan liar dituding sebagai penyebab langkanya flora cantik di kawasan yang dilindungi ini.

"Dua tahun terakhir spesies jenis tumbuhan langka itu terus menyusut hingga 40 persen," kata Penyidik Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Provinsi Sumbar, Djoko Sumarjo, di Padang, Jumat (2/5).

Meskipun ada, jelas Djoko, populasi anggrek-anggrek tersebut sangat langka atau hanya tersisa beberapa pohon saja. Beberapa di antaranya bahkan sudah sulit ditemui. Misalnya, jenis anggrek vanda, anggrek pensil dan anggrek teratai.

"Jenis anggrek alam ini sangat diminati dan punya nilai jual tinggi. Akibatnya keberadaan tumbuhan itu semakin terancam," imbuhnya. Padahal, perburuan di kawasan tersebut telah dilarang dan pelakunya diancam hukuman pidana. Ini merujuk UU No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem.

Kawasan hutan yang kaya jenis anggrek ini berada di Taman Nasional Pulau Siberut, satu wilayah hutan yang memiliki pohon bermutu tinggi, dan terdapat banyak jenis anggrek. Misalnya, jenis anggrek Coelogyne Incrasata, Eria nutans dan Dendrobium paphillum. Data terakhir tercatat 25 jenis anggrek terdapat di pulau itu dan didominasi jenis anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis). Jenis anggrek, yang memiliki bunga berwarna putih, daun daging tebal, dan dalam satu bunga terdapat 7 hingga 15 kuntum ini, sangat diminati.

Untuk menjaga kelestarian jenis anggrek itu, sangat dibutuhkan peran serta masyarakat untuk peduli menjaganya. Terutama, masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan hutan.

Sumber :
http://www.kompas.com
Rabu, 14 Juni 2006 - 16:05 wib