Tampilkan postingan dengan label TERUMBU KARANG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TERUMBU KARANG. Tampilkan semua postingan

Rabu, April 02, 2008

180 Hektare Terumbu Karang di Pantai Rembang Rusak

180 Hektare Terumbu Karang di Pantai Rembang Rusak


Rembang, CyberNews. Kerusakan terumbu karang di wilayah pesisir pantai Kabupaten Rembang sudah sangat parah. Menurut data dari Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Tirto Mulyo Desa Banyudono Kecamatan Kaliori, terumbu karang yang sudah rusak di wilayah pesisir pantai Kabupaten Rembang mencapai 180 hektare.


Anggota BKM Tirto Mulyo Dony Shara kemarin mengutarakan terumbu karang yang masih cukup baik di pesisir kabupaten Rembang hanya tinggal 30 hektare. ''Apabila diprosentase, 80 persen terumbu karang di Kabupaten Rembang sudah rusak. Yang masih tersisa cukup bagus, hanya ada di sekitar kawasan Desa Pasar Banggi Kecamatan Kota saja,'' paparnya.


Dia menambahkan akibat kerusakan terumbu karang yang sangat parah itu, mengakibatkan ikan sulit untuk berkembang biak. Dia mengutarakan kondisi kerusakan terumbu karang ini juga semakin diperparah dengan semakin menyempitnya luas hutan bakau di Kabupaten Rembang. Kerusakan terumbu karang dan hutan bakau ini katanya, memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap hasil tangkapan ikan nelayan. ''Kami amati dari lima tempat pelelangan ikan (TPI) di Kabupaten Rembang, hampir setiap tahun mengalami penurunan produksi ikan yang sangat drastis. Hal ini kami duga merupakan salah satu dampak dari kerusakan terumbu karang di Kabupaten Rembang,'' jelas Dony.

Dia menjelaskan untuk mengurangi kerusakan terumbu karang ini, BKM Tirto Mulyo bersama dengan warga Desa Banyudono Kecamatan Kaliori mulai bulan Maret kemarin sudah memulai sebuah usaha untuk pelestarian terumbu karang dan hutan mangrove. ''Pemuda desa kami gandeng untuk memberikan penyadaran terhadap arti pentingnya terumbu karang bagi nelayan. Selain itu, kami juga mengandeng warga sekitar untuk mulai kembali menanami wilayah pesisir dengan mangrove,'' jelasnya.

Sebelumnya Kabag Hukum H Agus Salim SH mengutarakan Pemkab sudah memiliki peraturan daerah (Perda) yang mengatur pelarangan perusakan dan pengambilan terumbu karang di wilayah pesisir laut Kabupaten Rembang. Dia menambahkan dengan adanya Perda itu, Pemkab tidak memberikan toleransi kepada pihak manapun untuk mengambil terumbu karang di wilayah pesisir Kabupaten Rembang. (Mulyanto Ari Wibowo /CN09)

Sumber : http://www.suaramerdeka.com/beta1/index.php?fuseaction=news.detailNews&id_news=3151
01/04/2008 17:42 wib - Daerah Aktual

Jumat, Maret 28, 2008

Pemanasan Global Bukan Hanya Ancam Karang

Pemanasan Global Bukan Hanya Ancam Karang


Wellington (ANTARA News) - Permukaan air laut yang naik akibat pemanasan global akan mengancam kehidupan dan tempat tinggal lebih dari 200.000 orang yang tinggal di pulau karang dalam beberapa generasi mendatang, demikian laporan PACNEWS, Senin.

Peringatan tersebut dikeluarkan oleh arkeolog dan ahlimengenai manfaat pulau karang di University of Queensland, Marshall Weisler. Weisler, sebagaimana dilaporkan oleh Xinhua, mengatakan bahwa kepulauan Kiribati, Tuvalu dan Kepulauan Marshall di Pasifik Tengah, serta Maladewa di Samudra Hindia menghadapi resiko terbesar.

Weisler menyatakan situasinya lebih serius dibandingkan dengan yang disadari manusia di bidang pertanian, yang memang sudah hilang akibat naiknya permukaan air laut di Kepulauan Marshall, kata PACNEWS --kantor berita regional yang berpusat di Suva, Senin. "Banyak orang telah memperlihatkan kepada saya daerah yang dulu terdapat kebun sekarang menjadi laguna. Ada pohon kelapa yang tumbuh 20 meter dari bibir pantai, separuhnya telah tumbang," kata Weisler.


"Di Kiribati, ada gelombang tinggi yang merendam banyak bagian desa, sehingga orang berada di tanah kering pada pagi hari dan desa rumah panggung sementara air menggenangi bawah rumah mereka selama laut pasang akibat daya tarik bulan." "Ada masalah yang sangat serius bagi generasi mendatang yang mungkin tak dapat hidup di pulau tempat tinggal mereka sekarang," katanya.

Panel Internasional mengenai Perubahan Iklim telah meramalkan permukaan air laut dapat naik antara sembilan dan 88 sentimeter pada abad ini. Pulau karang menghadapi ancaman karena semuanya adalah pulau karang kecil yang nyaris tak berada di atas permukaan air laut.


Weisler mengatakan naiknya permukaan air laut yang sudah diramalkan rumit karena air dapat naik dengan tingkat yang berbeda dan memiliki dampak yang berbeda, tergantung atas lokasi pulau karang tersebut. Ia menyatakan negara pulau akan menghadapi keputusan berat pada masa depan mengenai kepemilikan lahan, masa depan ekonomi dan penempatan kembali seluruh negara tersebut di dalam wilayah lain. "Rakyat di kepulauan ini memiliki suara kecil karena mereka bukan negara industri Barat dengan banyak penduduk. Orang memperhatikan mereka," kata Weisler. (*)


Sumber :
http://www.antara.co.id/arc/2008/3/3/pemanasan-global-bukan-hanya-ancam-karang/
03/03/08 13:42

Rabu, Februari 27, 2008

Terumbu Karang di Pulau Enggano Terancam Habis

Terumbu Karang di Pulau Enggano Terancam Habis

Bengkulu--MI: Keberadaan terumbu karang di Pulau Enggano, Bengkulu Utara, terancam rusak dan habis, karena terus diambil secara ilegal untuk dijadikan bahan bangunan proyek-proyek pembangunan fisik dan keperluan pribadi warga setempat.

Basir Kauno, salah seorang tokoh masyarakat Enggano, Senin, menilai, pemerintah sampai sekarang belum berhasil mengatasi penambangan liar batu karang di Enggano tersebut, sehingga keberadaannya terancam habis dan akan berdampak pada rapuhnya pondasi pulau tersebut.

Menurut dia, yang sangat mengkhawatirkan adalah pengambilan secara besar-besaran oleh pihak kontraktor pembangunan jalan dan bangunan fisik proyek pemerintah lainnya di pulau tersebut, padahal terumbu karang itu berfungsi memperkokoh pondasi Pulau Enggano yang berjarak 97 mil dari Kota Bengkulu itu.

Bila terumbu karang itu habis akan mengancam pulau terpencil itu menjadi tenggelam, karena kawasan hutannya pun sekarang sudah mulai dibabat dan diambil kayunya oleh masyarakat. Ia juga menilai, pembangunan di Pulau Enggano selama ini masih sebatas proyek uji coba dan bukan untuk pengembangan dan mempertahankan kekayaan alam yang ada. Basir mencontohlan beberapa proyek besar tahun lalu antara lain transmigrasi yang menghabiskan dana puluhan miliar rupiah sampai sekarang terbengkalai termasuk pengadaan kapal nelayan sampai kini tidak ada realisasinya.

Pembangunan jalan dan irigasi seluruhnya menggunakan terumbu karang yang ada di daerah itu, bila terumbu karang tersebut habis, Pulau Enggano ke depan tinggal kenangan dan akan tenggelam apalagi hutannya terus dibabat untuk diambil kayunya. Menurut penetian ahli kepulauan, kata Basir Kauno, Pulau Enggano berada di atas kekuatan karang, bila karang-karang itu terus diambil pondasinya akan runtuh.

Untuk mengantisipasinya, pihak Pemkab Bengkulu Utara harus tegas menindak dan menyetop pencurian sumber daya alam yang ada di pulau terpencil yang berada di Samudra Indonesia itu. Sebelum masuknya transmigrasi ke daerah itu, banyak pengusaha berpura-pura ingin menanamkan modalnya dengan membuka perkebunan besar, namun setelah berjalan ternyata hanya mengambil kayu dan gulung tikar. Menanggapi rencana masuknya investor ke daerah itu, Basir menyambut positif asalkan kepentingan masyarakat setempat tak diabaikan. (Ant/OL-03)

http://www.mediaindonesia.com/
Rabu, 27 Februari 2008

Rabu, Februari 20, 2008

Dua Konsultan Jerman Bantu Pengembangan Terumbu Karang

Dua Konsultan Jerman Bantu Pengembangan Terumbu Karang

Denpasar—Mi: Dua konsultan asal Jerman yang membantu pengembangan terumbu karang buatan di daerah pesisir utara Pulau Bali secara rutin dua kali dalam setahun memberikan bimbingan teknis terhadap pembuatan tempat berkembangbiaknya ratusan jenis ikan hias. "Kedua konsultan asing itu adalah Prof Wolf Hilbertz dan Dr Tom Goreau. Mereka sejak 2001 memberikan bimbingan teknis untuk memperbaiki terumbu karang yang rusak akibat ulah pelaku penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak," kata I Gusti Agung Prana, seorang pengusaha hotel setempat yang mensponsori pembangunan terumbu karang tersebut di Denpasar, Senin (18/2).

Ia mengatakan, kedua tenaga ahli itu mempunyai peran yang cukup besar dalam mengembalikan kelestarian lingkungan, terutama di daerah perairan laut Bali utara. Dengan teknologi baru, yakni pembuatan rumpon yang dibuat dalam berbagai ukuran, sesuai bentuk yang diinginkan menyerupai seperti terumbu karang asli ditempatkan di laut mampu merangsang aneka jenis ikan hias dari luar untuk bersarang di tempat tersebut. Listrik yang bersumber dari accu dialirkan ke masing-masing rumpon mampu mempercepat pertumbuhan gulma lima kali lipat dibanding proses secara alamiah.

Dari sekitar 40 rumpon yang dibuat dalam beberapa tahun belakangan, pertumbuhan gulma dan plankton mengalami perkembangan sekitar tiga sentimeter per tahun, lima kali lebih cepat dibanding secara alamiah. Kondisi demikian didukung kesadaran masyarakat akan kelestarian lingkungan, yakni tidak lagi menangkap ikan dengan menggunakan bahan peledak, sehingga mampu menjadikan kawasan itu lestari. Masyarakat yang tergabung dalam desa adat setempat ikut mengawasi nelayan luar yang menangkap ikan di perairan sekitar desa Pemutaran yang sebelumnya marak menggunakan bahan peledak, ujar Agung Prana. (Ant/OL-03)

Sumber :
http://www.mediaindonesia.com/
Selasa, 19 Februari 2008

Minggu, Februari 17, 2008

Pulau Runduma Surganya Penyu

Pulau Runduma Surganya Penyu

Sulawesi Tenggara (ANTARA News) - Runduma adalah surga bagi penyu. Disebut demikian karena di pulau berpasir putih ini, para penyu bebas beranak-pinak membentuk koloni, tanpa gangguan manusia. Pulau di tengah Laut Banda dan termasuk wilayah Kabupaten Wakatobi Provinsi Sulawesi Tenggara ini, sesungguhnya bukan pulau tak berpenghuni. Ada 140 kepala keluarga yang bermukim di pulau itu yang sangat mencintai alam dan pulau mereka, sehingga penyu merasa aman hidup berdampingan.

Terumbu karang di perairan Laut Banda juga masih lestari. Warga Desa Runduma, Kecamatan Tomia menghargai kehidupan biota laut dan sangat menjaga terumbu karang di kawasan itu. Mereka tak pernah merusaknya, karena terumbu karang bagi mereka seperti "ibu", yang memberi kehidupan. Mereka menangkap ikan hanya dengan menggunakan alat konvensional, seperti pukat dan jala saja. Mereka pantang menggunakan alat modern apalagi sampai melakukan pemboman ikan yang dapat merusak terumbu karang. Mereka paham terumbu karang adalah tempat berkembang biaknya biota laut, khususnya ikan dan penyu. Jika terumbu karang hancur maka ikan dan penyu tak akan ada lagi.

Khusus penyu, di sebelah Pulau Runduma terdapat pulau kecil yang sama sekali tidak berpenghuni. Di pulau tanpa nama, rakyat Runduma membiarkan penyu-penyu bertelur. Untuk mengawasi perkembangbiakan penyu, pengawas dari Taman Nasional Wakatobi setiap bulan melakukan kunjungan. Tujuannya untuk melihat, sekaligus menghitung pertambahan populasi penyu di sekitar pulau tersebut. Sebelum pegawas Konservasi Taman Nasional Wakatobi meningkatkan pengawasan di sekitar terumbu karang Wakatobi, kerap kali pengganggu dari luar Wakatobi datang melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak. Bahkan ada yang berani melakukan pembiusan dengan kompresor. Mereka menyelam hingga ke dasar karang menebar bius dan membunuh ikan dan biota laut lain.

Akibat perbuatan tersebut, terumbu karang rusak. Ikan-ikan yang belum saatnya dipanen mati terkena bius ikan. Menurut Siwa, warga Desa Runduma, yang melakukan pengembomam, pembiusan dan perburuan telur penyu dan sekaligus penyunya adalah warga di luar Pulau Runduma. "Namun, kami warga Runduma yang kerap dituding melakukan itu semua. Padahal bukan kami, melainkan orang luar yang datang merusak terumbu karang," kata Siwa.Agar populasi penyu tetap terpelihara dengan baik di Pulau Runduma, Bupati Wakatobi, Hugua, terus meningkatkan pengawasan, baik pengawasan pihak Taman Nasional Wakatobi, instansi teknis terkait maupun kelompok masyarakat yang sudah mendapat pembinaan.

Ternyata pengawasan bukan satu-satunya cara yang efektif agar kelestarian terumbu karang tetap terpelihara hingga biota laut tetap berkembangbiak dengan baik, pendekatan budaya lokal lebih efektif, kata Hugua yang juga aktivis lingkungan itu. Sang Bupati yang pernah menyaksikan cara penyu bertelur di hamparan pasir Pulau Runduma, mengatakan bahwa penyu memiliki cara unik untuk mengelabui perbuatan tangan-tangan jahil. Misalnya saja, penyu bertelur dengan cara menggali pasir, penyu berjalan beberapa meter lalu kemudian menghilangkan jejak kakinya.

500 Jenis

Wakatobi memiliki lebih dari 500 jenis terumbu karang yang tersebar pada "atol" terpanjang di dunia yang mencapai 47 kilometer. Secara umum jenis karang yang mendominasi ekosistem terumbu karang di daerah ini adalah "Acropora spp dan Porites spp". Kehidupan biota laut sangat indah. Ikan-ikan yang hampir tidak dijumpai di perairan lain di Indonesia, bahkan di negara mana pun dapat ditemui di Wakatobi. "Sea hourse", ikan kodok, ikan Napoleon, ikan termahal di dunia masih dapat ditemukan di sela-sela terumbu karang Wakatobi.Perhatian terhadap terumbu karang Wakatobi bukan hanya pemerintah daerah tetapi telah menarik perhatian dunia. Oleh Bank Dunia anggaran yang dikucurkan melalui program Coral Reef Rehabilitation and Management Program (Coremap) telah mencapai puluhan miliar rupiah.

Kadis Perikanan dan Kelautan Sultra, Askabul Kijo mengatakan, kelestarian terumbu karang membutuhkan perhatian semua pihak. Kehadiran Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk melestarikan terumbu karang dan biota laut membantu pemerintah daerah, kata Askabul. Pengunjung yang berminat menikmati wisata di gugusan empat pulau besar di Wakatobi (Wanci, Kaledupa, Tomia dan Binongko) dapat menggunakan beberapa alternatif.

Wisatawan bisa menggunakan transportasi udara milik investor wisata Mr. Lorens di Pulau Onemobaa. Transportasi udara ini merupakan satu-satunya yang bisa menjangkau Wakatobi. Itupun harus melalui bandara udara Ngurah Rai, Denpasar. Biaya mencapai belasan juta rupiah. Dapat pula melalui jalur laut, yakni dari Kendari menumpang kapal cepat ke Kota Baubau kemudian menggunakan kapal kayu menuju Pelabuhan Wangi-Wangi. Biaya sekitar Rp 800 ribu pulang pergi (PP). Memang relatif mahal, tapi itu akan terbayar tunua dengan keindahan panorama yang ditawarkan Rundama.(*)

Sumber :
http://www.antara.co.id/arc/2008/1/30/pulau-runduma-surganya-penyu/
30/01/08 14:36

Jumat, Januari 11, 2008

Menyelamatkan Terumbu Karang Nusa Penida

Menyelamatkan Terumbu Karang Nusa Penida
Sangat sedikit lokasi terumbu karang di dunia ini yang menyimpan kekayaan yang demikian luar biasa. Salah satu dari yang sedikit itu adalah hamparan terumbu karang yang maha luas di kawawan Nusa Penida, Bali. Terdapat ratusan jenis terumbu karang dan ribuan jenis ikan di wilayah perairan tersebut.

Selama ini, kekayaan dan kecantikan alam tersebut menjadi aset penting bagi kegiatan pariwisata di Bali, khususnya wisata menyelam. Namun, sentuhan manusia melalui aktivitas wisata itu dikhawatirkan menjadi salah satu ancaman bagi kelestarian terumbu karang di sana. Maka, kegiatan konservasi terasa mutlak dilakukan untuk menjamin kelangsungan hidup terumbu karang tersebut.

Adalah Grup Bakrie melalui Bakrie Green Program yang mulai melakukan konservasi tersebut. Grup Bakrie pun menggandeng lembaga nirlaba di bidang lingkungan yang sangat peduli dengan kelangsungan biodiversiti yaitu Conservation International Indonesia (CII). Selama sembilan tahun ke depan, mereka akan melakukan berbagai aktivitas yang mendukung kelestarian terumbu karang di Nusa Penida Bali dan di kawasan Raja Empat, Irian Barat.

Dipilihnya kawasan laut Raja Ampat dan Nusa Penida sebagai tempat konservasi, dikatakan Marine Program Director CII, Ketut Sarjana Putra, mengingat kedua kawasan itu masuk dalam segitiga karang dunia. Di dua tempat itu, jelasnya, sekurangnya terdapat 500 jenis terumbu karang, selain juga memiliki 2.000 jenis ikan. ''Melalui kegiatan konservasi itu, kita harapkan dapat menjaga kelestarian ikan dan sumber daya hayati lainnya, karena dapat meningkatkan bio massa dan jumlah spesiesnya,'' kata Sarjana saat menandatangani kerja sama dengan Grup Bakrie di Tanah Lot, Bali, akhir pekan lalu.

Dengan kekayaan terumbu karangnya, Raja Ampat dan Nusa Penida kini dikenal sebagai objek wisata menyelam. Melalui kegiatan konservasi, lanjutnya, terumbu karang di kawasan itu akan terjaga dan wisatawan akan semakin tertarik untuk datang ke sana.

Sulit diakses dari darat

Berdasarkan Peta Lingkungan Pantai Indonesia 1993 dan citra Satelit Landsat serta survei lapangan, ekosistem terumbu karang di Pulau Nusa Penida menyebar sepanjang 62,4 kilometer. Atau, mengelilingi 80,6 persen panjang garis pantai pulau dengan luas total mencapai 1.007 hektare (ha). Sebaran terumbu karang terluas menurut desa pantai terdapat di Desa Pejukutan yaitu mencapai 182 ha. Seluruh pantai Desa Pejukutan dikelilingi oleh terumbu karang, dengan sebaran terumbu karang yang luas dan jangkauannya lebar ke arah laut terletak di sekitar Batu Abah. Sebagian terumbu karang yang terdapat di Desa Pejukutan sulit dijangkau dari daratan karena tidak terdapat akses jalan dan berada di bawah pantai bertebing terjal.

Sedangkan sebaran terumbu karang di Desa Suana dari Dusun Pengaud sampai Dusun Semaya sejajar dengan garis pantai. Lebarnya berkisar 120 m sampai 150 m dan tumbuh sampai kedalaman 60 m. Luas terumbu karang di Desa Suana mencapai 124,4 ha. Desa Bunga Mekar juga memiliki sebaran terumbu karang yang cukup luas yaitu 101,0 ha. Tetapi, aksesnya sangat sulit dijangkau karena berada di bawah tebing terjal. Di desa ini terdapat sebuah gili yang dikelilingi oleh terumbu karang yaitu Nusa Batupahet. Sebaran terumbu karang di pantai selatan ini berada di bawah tebing terjal sampai pada kedalaman 30 m.

Sementara Desa Sakti memiliki sebaran terumbu karang seluas 49,7 ha yang meliputi panjang garis pantai 6,2 km. Sebarannya terdapat di pantai sebelah barat yaitu Teluk Gamat, Teluk Penida (Crystal Bay), Teluk Besardulu dan Teluk Besarteben. Terumbu karang di Teluk Gamat relatif lebar yaitu sekitar 150 m, tumbuh sampai kedalaman 50 m. Terumbu karang di Crystal Bay juga relatif lebar yaitu sekitar 370 m. Di teluk ini terdapat sebuah gili yaitu Nusa Batumejineng. Kedalaman pertumbuhan terumbu karang di lokasi ini mencapai 40 m.

Sebaran terumbu karang di Desa Batumadeg merupakan terumbu karang tepi yang tumbuh di bawah tebing pantai sampai kedalaman 20 m. Kondisi serupa juga terdapat pada terumbu karang di Desa Batukandik, Desa Sekartaji dan Desa Tanglad. Terumbu karang di empat desa ini juga sangat sulit diakses dari daratan. Terumbu karang tepi di sebelah utara pulau yaitu di Desa Batununggul, Kutampi Kaler, Ped dan Toyapakeh, tumbuhnya membentuk jarak dari pantai yang dipisahkan oleh dataran pantai berpasir. Di Desa Batununggul, terumbu karang tumbuh mengikuti isodeph 40 m dengan lebar 100 m sampai 200 m. Di Desa Kutampi Kaler, terumbu karang berkembang sejajar pantai mengikuti isodepth 45 m dengan lebar berkisar 100 m sampai 230 m.

Terumbu karang di sepanjang Desa Ped juga berkembang sejajar garis pantai mengikuti isodepth 45 m dengan lebar 150 sampai 250 m. Di Desa Toyapakeh, terumbu karang berkembang mengikuti isodepth 30 m dengan lebar 200 m sampai 550 m. Selama ini, kawasan pulau-pulau kecil, seperti Nusa Penida relatif kurang mendapatkan sentuhan pembangunan yang berarti karena orientasi pembangunan selama ini masih bertumpu di daratan. Walaupun terdapat kegiatan pembangunan, tetapi kegiatan tersebut lebih menitikberatkan pada pertimbangan ekonomi sehingga kurang memperhatikan kelestarian lingkungan dan konservasi.

Senilai 6 juta dolar AS

Dalam perjanjian kerja sama itu, Bakrie menyiapkan dana konservasi yang cukup besar, yaitu berkisar antara 6-7 juta dolar AS atau setara Rp 57-Rp 66 milyar. Menurut Direktur Pengembangan Bakrie Group, Marudi Surahman, kegiatan konservasi laut di Nusa Penida dan Raja Ampat merupakan tahap awal. Ke depan pihaknya akan terus melakukan kegiatan yang sama. Jika saat ini, Grup Bakrie masih menggandeng pihak lain sebagai mitra, kelak Grup Bakrie akan berusaha melakukannya sendiri dengan membuat lembaga yang khusus menangani masalah konservasi. ''Kita sudah banyak melakukan kegiatan peduli lingkungan melalui unit-unit usaha Grup Bakrie. Tetapi, ke depan kita ingin membuat sinergi, sehingga kegiatan menjadi lebih terfokus,'' katanya.

Sementara itu, mengenai pelaksanaan program konservasi di Nusa Penida dan Raja Ampat, Program Director CII, Sarjana, menyebutkan akan dimulai Januari 2008 untuk waktu sembilan tahun. Namun, mengingat kegiatan konservasi yang tidak mengenal waktu, maka bisa jadi waktunya diperpanjang, tergantung kesiapan masyarakat setempat. ''Kalau masyarakat sudah siap dengan mendukung kegiatan konservasi ya secepatnya bisa kita lepas," jelasnya. aas

Ikhtisar :
  • Ekosistem terumbu karang di Pulau Nusa Penida menyebar sepanjang 62,4 kilometer.
  • Terumbu karangnya mengelilingi 80,6 persen panjang garis pantai pulau dengan luas total mencapai 1.007 hektare.

Sumber :
http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=13
Kamis, 03 Januari 2008 14:53:00

Kamis, Desember 27, 2007

Kondisi Terumbu Karang di Teluk Lampung Memprihatinkan

Kondisi Terumbu Karang di Teluk Lampung Memprihatinkan

Bandarlampung, Senin - Kondisi terumbu karang di Teluk Lampung dan sekitarnya cukup memprihatinkan karena hampir 18 persen karang yang ada di kawasan itu mati. Demikian diungkapkan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Lampung, Untung Sugiyatno, Senin (5/11).

Berdasarkan data terumbu karang tersebar di beberapa pulau sekitar kawasan Teluk Lampung yang memiliki luas sekitar 150 kilometer itu kondisinya cukup memprihatinkan bahkan banyak yang mati. Ia menyebutkan terumbu karang di kawasan Teluk Lampung, terdapat di Pulau Tangkil memiliki luas 11 hektar, Condo (47 Ha), Tegal (98 Ha), Kelagian (435 Ha), Puhawang (694 Ha), Legundi (1.742 Ha), Sebuku (1.646 Ha), Sebesi (2.620 Ha) dan Balak (32 Ha). Menurutnya kondisi terumbu karang yang mati atau morfologi karang masih menyerupai karang utuh, tetapi aktivitas hewan tidak ada banyak dijumpai di Pulau Kelagian.

"Hampir 18 persen terumbu karang di Pulau Kelagian itu mati," kata Untung, seraya menambahkan bahwa kondisi karang di kawasan Teluk Lampung itu banyak yang mati, juga terdapat tutupan pasir (abiotik) dan terdapat pecahan karang atau bentuk morfologisnya tidak utuh. Selain itu, antara empat hingga 28 persen terumbu karang di kawasan itu terdapat tutupan pasir. Sementara terumbu karang yang pecah atau bentuk morfologisnya tidak utuh antara 0,6 hingga 45 persen. Rusaknya kondisi terumbu karang di kawasan Teluk Lampung, salah satunya disebabkan pengeboman yang dilakukan nelayan pencari ikan. Pihaknya menghimbau nelayan agar tidak menangkap ikan dengan menggunakan bom ikan atau alat lainnya yang dapat merusak terumbu karang.
Sumber: AntaraPenulis: Wah
http://www.kompas.com
Senin, 05 November 2007 - 14:40 wib

Pemanasan Global dan Terumbu Karang

Pemanasan Global dan Terumbu Karang

Oleh : Marthen Welly/The Nature Conservancy

Akhir-akhir ini pembicaraan mengenai pemanasan global (global warming) yang mengakibatkan perubahan iklim (climate change) kian ramai dibicarakan dan menjadi pusat perhatian dunia. Terlebih lagi, pada bulan Desember yang akan datang, perhelatan tingkat dunia mengenai perubahan iklim akan diadakan di Bali dibawah koordinasi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pertemuan akbar yang disebut United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) akan dihadiri kurang lebih perwakilan pemerintahan 120 negara dan sekitar 10.000 peserta.

Pada intinya agenda utama UNFCCC adalah mempersiapkan bumi kita ini agar dapat mengurangi pemanasan global dan mengatasi dampaknya. Beberapa isu utama yang akan dibahas adalah kerusakan hutan, perdagangan karbon, dan penerapan protokol Kyoto. Sejauh ini hutan dipercaya sebagai paru-paru dunia yang dapat mengikat emisi karbon yang dilepaskan ke udara oleh pabrik-pabrik industri, kendaraan bermotor, kebakaran hutan, asap rokok dan banyak lagi sumber-sumber emisi karbon lainnya, sehingga dapat mengurangi dampak pemanasan global.

Indonesia sebagai negara yang memiliki hutan cukup luas di dunia, sangat memainkan peran penting untuk bisa menjaga paru-paru dunia. Namun sesungguhnya Indonesia yang 2/3 wilayahnya adalah lautan, juga memiliki fungsi dan peran cukup besar dalam mengikat emisi karbon, bahkan dua kali lipat dari kapasitas hutan. Emisi karbon yang sampai ke laut, diserap oleh phytoplankton yang jumlahnya sangat banyak dilautan, dan kemudian ditenggelamkan ke dasar laut atau diubah menjadi sumber energi ketika phytoplankton tersebut dimakan oleh ikan dan biota laut lainnya.

Namun, pemanasan global juga membawa ancaman terhadap terumbu karang Indonesia, yang merupakan jantung kawasan segitiga karang dunia (heart of global coral triangle). Pemanasan global telah meningkatkan suhu air laut sehingga terumbu karang menjadi stress dan mengalami pemucatan/pemutihan (bleaching). Jika terus berlangsung terumbu karang tersebut akan mengalami kematian. Di sisi lain coral triangle memiliki fungsi penting bagi kehidupan manusia. Lebih dari 120 juta orang hidupnya bergantung pada terumbu karang dan perikanan di kawasan tersebut. Coral triangle yang meliputi Indonesia, Philipina, Malaysia, Timor leste, Papua New Guinea and Kepulauan Salomon ini, merupakan kawasan yang memiliki keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia, khususnya terumbu karang.

Melihat peran dan posisinya yang strategis, maka President Republik Indonesia – Susilo Bambang Yudhoyono pada pertemuan APEC di Sydney baru-baru ini, telah mengumumkan sekaligus mengajak negara-negara di dunia, khususnya di kawasan Asia Pacific untuk menjaga dan melindungi kawasan segitiga karang dunia yang dikenal dengan nama Coral Triangle. Indonesia bersama lima negara lainnya yaitu Philipina, Malaysia, Timor Leste, Papua New Guinea and Kepulauan Salomon mengumumkan sebuah inisiatif perlindungan terumbu karang yang disebut Coral Triangle Initiative (CTI). Ke-enam negara yang tergabung dalam CTI disebut sebagai CT6. Inisiatif ini juga telah mendapatkan dukungan dan respon yang positif dari negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Australia.

Coral triangle adalah sebuah kawasan di Asia-Pacific yang dalam 2 dekade belakangan ini menjadi pusat penelitian para ahli kelautan dunia. Pada tahun 2005, The Nature Conservancy Coral Triangle Center (TNC-CTC) – sebuah lembaga konservasi internasional yang juga menjalankan programnya di Indonesia dan negara-negara pacific, mengadakan sebuah workshop internasional di Bali yang dihadiri para pakar kelautan dunia, dengan tujuan untuk menetapkan batas cakupan wilayah coral triangle. Pada akhir workshop, para pakar kelautan berhasil memetakan coral triangle yang mencakup 6 negara dengan luas total terumbu karang 75.000 km2. Indonesia sendiri memiliki luas terumbu karang sekitar 51.000 km2 yang menyumbang lebih dari 21% luas terumbu karang dunia.

Departemen Kelautan dan Perikanan, TNC-CTC, WWF Indonesia, dan Departemen Kehutanan secara bersama-sama menggagas CTI. Dan saat ini CTI telah menjadi salah satu agenda utama Indonesia bersama 5 negara lainnya. CTI akan lebih disuarakan dan disosialisasikan selama pertemuan UNFCCC sehingga mendapatkan dukungan yang lebih besar dari masyarakat internasional.

Perlindungan terhadap keanekaragaman hayati laut, terutama terumbu karang melalui CTI sangat erat kaitannya dengan ketahanan pangan dan upaya mengurangi kemiskinan. Mengingat fungsi penting terumbu karang adalah sebagai tempat berkembang-biak, mencari makan dan berlindung bagi ikan dan biota laut lainnya, jika terumbu karang terjaga baik, maka sumber perikanan juga akan terus memberikan pasokan makanan bagi manusia, termasuk sumber protein. Ditambah lagi fungsi terumbu karang juga adalah sebagai pelindung alami pantai dari gempuran ombak dan aset pariwisata bahari.

Suatu langkah yang tepat dan strategis jika Indonesia berinisiatif untuk menyuarakan sekaligus memimpin CTI, mengingat Indonesia merupakan negara dengan luas terumbu karang terluas dan keanekaragaman terumbu karang tertinggi di dunia. Indonesia juga memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia sekitar 81.000 km yang melingkupi lebih dari 17.500 pulau. Berdasarkan penelitian TNC-CTC dan para mitranya pada tahun 2002, kepulauan Raja Ampat di Papua Barat, Indonesia memiliki 537 jenis karang yang merupakan jumlah tertinggi di dunia, dan merupakan 75% jenis karang dunia yang pernah ditemukan. Jika Indonesia tidak menyuarakan dan mengambil inisiatif untuk perlindungan terumbu karang di coral triangle, maka negara-negara lain seperti Philipina atau Malaysia yang akan menyuarakan sekaligus memimpin CTI. Dengan memimpin CTI, Indonesia mendapatkan peran dan posisi penting dalam upaya perlindungan terumbu karang dunia. Sekaligus melindungi aset bangsa yang tak ternilai harganya.

Pembentukan jejaring Kawasan Perlindungan Laut (KPL) yang tangguh dan dikelola secara efektif merupakan bentuk nyata dari impelementasi CTI. Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk melindungi paling tidak 10 juta hektar laut di perairan Indonesia pada tahun 2010. Saat ini paling tidak 5 juta hektar telah dibentuk KPL di Indonesia yang meliputi Kepulauan Raja Ampat, TN Teluk Cendrawasih, Kepulauan Wakatobi, Kepulauan Derawan, TN Komodo, TN Bunaken, TN Karimunjawa, TN Kepulauan Seribu dan TN Takabonerate.

Sumber :
National Geographic Indonesia
http://www.indonesiareef.com/site_blog.aspx?id=5d2f2d57-46f3-4186-8bde-4483d91869b4&bid=0f5616fa-cc0a-4653-b769-52bacfec567b
Ditulis oleh Anti 04:49 WIB. 08 Nopember 2007.

Sabtu, Desember 15, 2007

Terumbu Karang Kini Ikut Menjaga Kawasan...

Terumbu Karang Kini Ikut Menjaga Kawasan...

Penulis : ICHWAN SUSANTO

Selasa (12/6) pagi, perairan Nabire sangat teduh, seakan merestui keberangkatan tim monitoring terumbu karang di zona inti Kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih. Keberangkatan ini mengawali pemantauan bawah laut Pulau Nutabari, Nuburi, dan Tanjung Mangguar yang berada di wilayah administrasi Kabupaten Nabire Provinsi Papua. Cuaca yang sangat bersahabat membuat longboat yang dikemudikan Otis Banggo, warga pesisir Nabire, melaju dengan tenang. Riak-riak ombak yang hanya sesekali memercik membasahi penumpang serta sengatan matahari yang hangat mewarnai perjalanan selama empat jam ke Pulau Nutabari.

Sesampai di pulau seluas tak lebih dari satu hektar itu, dari jauh sudah tampak tiang mercusuar berwarna kuning. Laju perahu sedikit demi sedikit dikurangi agar tidak kandas pada rataan batu karang yang masih sangat rapat. Setelah perahu merapat di sisi utara pantai berpasir putih, rombongan yang terdiri dari lima petugas Balai TNTC, dua anak buah kapal, Otis Banggo, dan Kompas menurunkan perbekalan dan perlengkapan. Sebagian membuat perapian dan sebagian lain membangun tenda dari terpal seadanya sebagai tempat beristirahat. Di pulau tak berpenghuni ini tak terdapat sumber air tawar sehingga juga relatif jarang disinggahi nelayan.

Pukul 14.00 WIT, pemantauan di dua titik pun dimulai. Pemantauan terumbu karang menggunakan metode standar, yaitu line intercept transect (LIT). Karena topografi rataan terumbu karang hanya mencapai kedalaman 2-4 meter dan disambung tubir dalam, transek tak dapat dilakukan di kedalaman 10 meter sesuai dengan prosedur normal.

Titik pertama mengambil posisi di 03° 05’ 59,7" LS dan 135° 09’ 20,7" yang digunakan sebagai kontrol karena memiliki kerapatan dan keragaman penghuni ekosistem. Di kedalaman tiga meter, terumbu karang masih didominasi acropora bercabang dan koral masif. Ikan dalam jumlah besar mudah ditemui berupa rombongan ikan kakatua, sepasang ikan kupu-kupu. Di tubir kedalaman 18 meter, tampak udang karang (lobster) sebesar dua pergelangan tangan berdiam di cekungan goa karang.

Esok harinya, pengambilan sampel transek kembali dilakukan dengan titik penyelaman berbeda. Selesai mengambil sampel, tim buru-buru pindah tempat menginap di Pulau Kumbur yang berjarak dua jam dari Nutabari. Ini lantaran sepanjang malam, badai datang mengempas-empas kapal yang rawan bocor karena bisa terhantam batu karang.

Menangkap gorano

Di Pulau Kumbur, tim yang juga menyertakan anggota satuan polisi reaksi cepat (SPORC) dan polisi kehutanan menangkap basah pemburu ikan hiu yang dalam bahasa lokal disebut gorano. Dokumen perahu yang diakui kapten perahu, Serfatius Bawoka, milik Victor Bawoka, warga Nabire, ini disita karena menangkap ikan yang dilindungi undang-undang. Bukti lain adalah penjemuran puluhan daging sirip gorano di Tanjung Pulau Kumbur, mirip seperti yang ditemukan di Pulau Nutabari sehari sebelumnya.

Sehari menginap di pulau yang didominasi flora cemara laut ini, pemantauan terumbu karang dilanjutkan ke Tanjung Mangguar. Di wilayah Distrik Teluk Umar ini, sisa-sisa perusakan terumbu karang masih tampak jelas. Untungnya, terdapat pertumbuhan polip-polip pada karang mati yang mencapai satu sentimeter. Kondisi ini menunjukkan indikasi bahwa daerah ini mulai terehabilitasi.

Esok harinya, setelah bergelut semalaman dengan hujan dan semut di Pulau Pepaya, pemantauan dilakukan di perairan Pulau Nuburi. Sebagai salah satu zona inti, kondisi terumbu karang Pulau Nuburi dapat dikatakan memprihatinkan. Ini ditunjukkan dengan ditemukannya patahan karang yang berserakan. Patahan ini sudah mulai tertutup pasir, yang menandakan kerusakan sudah berlangsung lama.

Pemantauan selama empat hari di tiga perairan zona inti di Kabupaten Nabire ini merupakan sebagian dari total 80.000 hektar terumbu karang di seluruh kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih. Ini hanya sebagian kecil dari total luas TNTC yang mencapai 1,45 hektar.

Untuk memonitor terumbu karang saja, belum termasuk ekosistem lain, seperti mangrove dan lamun, dibutuhkan biaya serta tenaga yang cukup besar. Membawa perlengkapan selam ditambah mesin kompresor berbobot puluhan kilogram serta bekal makanan ditambah kendala badai merupakan tantangan tersendiri. Kemauan dan kerja keras setiap elemen petugas dan masyarakat amat dibutuhkan agar kawasan konservasi ini tetap terjaga sehingga anak cucu pun masih dapat menikmatinya. (ICH)

Sumber :
http://www.kompas.com/
Rabu, 27 Juni 2007.