Tampilkan postingan dengan label FAUNA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FAUNA. Tampilkan semua postingan

Rabu, April 02, 2008

Populasi Burung Murai Batu Terancam Punah

Populasi Burung Murai Batu Terancam Punah

Pangkalpinang, Selasa - Populasi burung langka seperti jenis murai batu dan elang bukit di Babel semakin mengkhawatirkan. Dalam radius 10 kilometer, populasi burung tersebut hanya satu ekor saja. Itu pun hanya di daerah-daerah tertentu. Belum lagi jenis burung-burung khas Babel lainnya seperti punai, betet dan sebagainya yang diindikasikan populasinya semakin sedikit.


Zainal Abidin, salah satu pencinta, penangkar dan pemerhati burung langka saat ditemui Bangka Pos Group di pasar Burung Pangkalpinang, Selasa (25/3) mengaku tertekannya populasi burungburung tersebut akibat kondisi alam dan lingkungan yang tidak representatif lagi.


Sarjana Biologi lulusan salah satu universitas negeri di Bogor ini mengatakan perambahan hutan secara massal dan besarbesaran untuk kepentingan pertambangan dan perkebunan membuat areal hidup ratusan jenis burung semakin sempit. Ditambah lagi dengan minimnya usaha reboisasi dari pelaku dan perambah alam dalam mengembalikan situasi lingkungan ke kondisi awal. "Banyak pemicu lainnya. Misalkan faktor dari jenis burung itu sendiri, baik reproduksi, sistem hidup, sebaran makanan dan pola migrasi. Yang terburuk adalah banyak jenis burung langka yang diburu oleh pihakpihak tak bertanggung jawab," kata lelaki paruh baya yang berdomisili di Kecamatan Merawang ini.


Lebih jauh, ia menjelaskan pola hidup burung seperti murai batu dan elang sangatlah sensitif. Reproduksi mereka tidaklah sebaik jenis burung lainnya. Telur yang dihasilkan tak lebih dari tiga buah, sementara setiap hari burung jenis ini terus diburu dan terkadang banyak yang mati di tengah alam. (Bangka Pos/Rico Ariaputra)


Sumber :

http://www.kompas.com/read.php?cnt=.xml.2008.03.25.19364533&channel=1&mn=42&idx=43

Selasa, 25 Maret 2008 | 19:36 WIB

Populasi Elang Jawa Makin Terancam

Populasi Elang Jawa Makin Terancam

Sukabumi, Rabu - Populasi elang jawa di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS) kian terancam punah menyusul kerusakan kawasan hutan lindung akibat adanya penebangan liar yang dilakukan masyarakat. "Saat ini populasi elang jawa yang ada tercatat sebanyak 19 ekor dan sebelumnya mencapai 200 ekor," kata Petugas Pengendalian Ekosistem Hutan di Kawasan Tanaman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Dede Nugraha, Rabu (19/3). Menurut dia, menyusutnya populasi burung yang dilindungi pemerintah itu disebabkan tanaman hutan yang dijadikan sumber makanan menepis bahkan beberapa titik menghilang akibat adanya penebangan liar.


Saat ini, jelasnya, elang jawa yang ada hanya tersebar di daerah Cikaniki, Blok Wates dan Gunung Endut sekitar kawasan hutan lindung TNGHS. Oleh karena itu, pihaknya bersama petugas polisi hutan secara berkala terus melakukan monitoring keberadaan elang jawa, sehingga satwa langka itu tidak terancam punah.

Hingga saat ini, berdasarkan hasil monitoring di lapangan hanya sebanyak 19 ekor burung elang jawa yang masih berkeliaran di kawasan hutan konservasi TNGHS.
Akan tetapi, satwa langka itu hingga sekarang belum juga berkembang-biak karena adanya kerusakan kawasan hutan taman nasional itu.


Ia mengatakan, untuk mencegah kepunahan elang jawa di kawasan hutan Gunung Halimun-Salak, maka pihaknya selain melakukan pengamanan ketat juga memberikan sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan konservasi. Kawasan hutan lindung TNGHS yang meliputi tiga Kabupaten yakni Lebak, Bogor dan Sukabumi, banyak satwa spesies yang dilindungi pemerintah. Misalnya, elang jawa, owa abu-abu, macan tutul dan lainnya.

"Kami meminta masyarakat jangan sampai terjadi pemburuan satwa-satwa langka karena akan merugikan anak cucu kita," ujarnya menambahkan. Sementara itu, Kepala Seksi Pengelolaan TNGHS wilayah Kabupaten Lebak, Pepen Rachmat, mengemukakan bahwa hingga saat ini spesies elang yang ada di hutan konservasi terdapat sebanyak 16 jenis, diantaranya elang jawa, elang hitam, elang alap-alap nipon, elang brontak, elang perut karet, elang alap-alap tikus, elang besar laut dan elang alap-alap jawa. "Spesies elang tersebut tetap dimonitor petugas, agar tidak terjadi kepunahan," katanya. (ANT/WAH)

Sumber :

http://www.kompas.com/read.php?cnt=.xml.2008.03.20.14345022&channel=1&mn=42&idx=43

Kamis, 20 Maret 2008 | 14:34 WIB

Populasi Harimau Menurun Tajam

Populasi Harimau Menurun Tajam

Jakarta, Kamis - Jumlah harimau di seluruh dunia telah mengalami penurunan tajam dalam 25 tahun terakhir. Organisasi lingkungan WWF melansir, populasinya menurun hingga 50 persen. WWF memperkirakan jumlahnya di alam sekarang tinggal 3.500 ekor.


Salah satu subspesies yang tinggal di China Selatan bahkan diprediksi punah dalam waktu singkat jika usaha konservasi tidak segera dilakukan. Ancaman terbesarnya adalah tingginya permintaan terhadap kulit, cakar dan bagian tubuh harimau sebagai ramuan obat tardisional China.


Dalam konferensi pers di Stockholm, Belgia, Rabu (12/3), direktur program spesies WWF India, Sujoy Barnajee, mengatakan pada awal abad ke-20 masih ada sekitar 20.000 harimau di India. Namun, kini kurang dari 1.400 ekor. Ia menilai ancaman terbesar keberadaan harimau di alam adalah manusia. Para peternak di India memilih untuk membunuh harimau untuk melindungi ternaknya yang menjadi sumber kehidupannya. "Saat terjadi konflik antara manusia dan harimau, yang kalah pasti harimau," ujarnya.


Situasi yang lebih genting juga terjadi di Sumatera karena penebangan liar yang tak terkendali. Jika penebangan hutan terus dilakukan seperti sekarang, lebih dari 90 persen kawasan hutan akan lenyap di tahun 2050. Harimau Sumatera bakal menjadi spesies berikutnya yang terancam punah jika keadaan ini tidak berubah. (BBC/WAH)


Sumber :

http://www.kompas.com/read.php?cnt=.xml.2008.03.13.18451887&channel=1&mn=42&idx=43

Kamis, 13 Maret 2008 | 18:45 WIB

Jumat, Maret 28, 2008

Spesies Baru Burung Kacamata Ditemukan

Spesies Baru Burung Kacamata Ditemukan


Cibinong, Bogor (ANTARA News) - Para peneliti Indonesia menemukan spesies baru burung Kacamata Togian (Zosterops somadikartai.) di Kepulauan Togian, Teluk Tomini, Sulawesi Tengah.

Tim peneliti dari Perhimpunan Ornitologi Indonesia (IdOU), Pusat Informasi Lingkungan Indonesia (PILI) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), menemukan spesies baru burung Kacamata itu di pesisir beberapa pulau kecil di Kepulauan Togian.

Satwa itu diketahui hidup dan berada di Pulau Malenge, Pulau Batudaka dan Pulau Togian, kata Ketua Tim Peneliti, M Indrawan di Puslibtang Biologi LIPI, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jumat.

Burung Kacamata Togian pertama kali ditemukan dalam sebuah ekspedisi pada tahun 1996 oleh Indrawan dan Sunarto, peneliti lapangan dari Universitas Indonesia UI). "Kami melakukan observasi lapangan sejak tahun 1997 hingga 2003," katanya.

Sementara pertelaan (deskripsi) jenis baru ini diselesaikan bekerjasama dengan ahli taksonomi dari Michigan State University, Amerika Serikat, Dr Pamela Rasmussen, yang mengamati spesies burung Asia.

Penemuan ini kemudian dipublikasikan dalam jurnal ornitologi terkemuka di AS, Wilson Journal of Ornithology edisi Maret 2008. Burung Kacamata merupakan kumpulan spesies yang bertubuh kecil, berwarna kehijauan dan umumnya memiliki lingkar mata berwarna putih. Jenis burung ini sangat aktif bergerak dalam kelompok-kelompok kecil.

Indonesia memiliki berbagai spesies Kacamata atau Zosterops. Berbeda dengan spesies Kacamata lain, Kacamata Togian tidak memiliki lingkaran putih di sekeliling mata. Mata berwarna kemerahan dan warna paruh lebih kemerahan dibanding spesies Kacamata lain. Sayangnya, spesies baru ini harus langsung dimasukkan dalam kategori satwa terancam punah berdasarkan kriteria International Union for the Conservation Nature and Natural Resources (IUCN).

Penggolongan tersebut dilakukan atas fakta bahwa habitat spesies baru tersebut kurang dari 5.000 kilometer persegi, populasinya terfragmentasi, hanya ditemukan di tiga pulau yaitu Malenge, Batudaka dan Togian, serta area dan kualitas habitatnya terus berkurang. Namun Indrawan mengaku, belum tahu jumlah populasi burung tersebut. "Kami tengah melakukan penelitian lebih lanjut untuk hal itu," katanya.

Dengan penemuan spesies endemik baru ini, Kepulauan Togian telah memenuhi syarat untuk ditetapkan sebagai daerah burung endemik, karena berdasar kriteria BirdLife International, dibutuhkan dua spesies endemik agar suatu daerah ditetapkan menjadi daerah burung endemik. Sebelumnya tim Indrawan juga telah menemukan spesies burung hantu di kawasan hutan Kepulauan Togian yang diberi nama Ninox burhani.

Sementara itu, pakar taksonomi senior, Prof Dr Soekarja Somadikarta --yang namanya diabadikan untuk nama spesies burung baru tersebut-- mengatakan, penemuan tersebut disambut luar biasa oleh dunia.
"Penemuan satu jenis burung saja itu luar biasa karena jarang. Burung lebih cepat habis atau punah karena banyak penggemarnya," kata Somadikarta yang juga menjadi Presiden Kehormatan untuk Internatioal Ornithological Congress XXV di Brazil.

Di Indonesia ada 1.598 spesies burung, belum termasuk spesies yang baru ditemukan ini, sedangkan di seluruh dunia ada sekitar 10.000 spesies burung. Dari spesies burung yang ada di Indonesia tersebut, sebagian besar ditemukan di kawasan Indonesia Timur.(*)


Sumber :

http://www.antara.co.id/arc/2008/3/14/spesies-baru-burung-kacamata-ditemukan/

14/03/08 14:08

408 Jenis Satwa Liar Indonesia Terancam Punah

408 Jenis Satwa Liar Indonesia Terancam Punah


Samarinda (ANTARA News) - Sekitar 408 jenis satwa liar di Indonesia terancam punah akibat maraknya praktik perdagangan dan perburuan satwa ilegal, pembukaan areal tambang yang tidak terkendali, serta perambahan hutan yang merusak habitat.

Kekhawatiran itu disampaikan oleh sekitar 25 mahasiswa dari Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Mulawarman (IMAPA Unmul) yang berunjukrasa di simpang empat Mall Lembuswana, Samarinda, Kaltim, Kamis sore. "Aksi ini kami lakukan untuk memperingati Hari Konservasi Perdagangan Satwa Liar yang jatuh pada tanggal 6 Maret," ungkap Koordinator aksi unjukrasa IMAPA Unmul, M. Arif Nashari ditemui di sela-sela unjuk rasa.

Selain melakukan orasi dan membagi-bagikan selebaran yang berisi seruan untuk menghentikan eksploitasi satwa liar, aksi unjukrasa yang mulai berlangsung sekitar pukul 16. 30 wita itu juga diwarnai aksi teatrikal dengan membuat kandang persis di tengah jalan.

Dalam aksi teatrikal itu yang mengundang perhatian pengguna jalan tersebut, dua mahasiwa berada dalam kandang yang digambarkan sebagai orangutan yang akan diperdagangkan. "Orangutan yang hidup di Kalimantan salah satu satwa liar yang menjadi incaran para pemburu untuk diperdagangkan. Aksi teatrikal ini menggambarkan, perlakuan orang-orang yang tidak bertanggung jawab terhadap kehidupan satwa liar yang populasinya kian kecil,"ujar M. Arif Nashari.

Data IMAPA Unmul tercatat, dari 300 ribu satwa liar yang ada di dunia, 17 persen diantaranya hidup di hutan Indonesia. Sebanyak, 515 jenis mamalia dan 1539 jenis burung serta 45 persen jenis ikan di dunia hidup di perairan Indonesia.

Dari data tersebut, jumlah satwa liar yang terancam punah di Indonesia yakni 147 jenis mamalia, 114 jenis burung, 28 jenis reptil, 91, jenis ikan dan 28 jenis invertebrata. "Sungguh sangat memprihatinkan, Idonesia yang dikenal sebagai negara kaya Sumber Daya Alam (SDA) namun ratusan jenis satwa liarnya terancam punah akibat kurangnya perhatian pemeirntah dalam melindungi satwa-satwa itu, "ungkap Korlap IMAPA Unmul tersebut.

Dikatakan, perdagangan satwa liar menjadi ancaman serius bagi kelestarian habitat satwa langka di Indonesia. M. Arif Nahari mengungkapkan, 95 persen satwa yang dijual di paar merupakan hasil tangkapan alam dan bukan hasil penangkaran. Lebih dari 20 persen satwa liar yang dijual di pasaran, kata dia mati akibat sistem pengangkutan yang tidak layak. "Berbagai jenis satwa dilindungi terancam punah akibat masih diperdagangkan secara bebas di Indonesia. Semakin langka satwa itu, harganyapun kian mahal sehingga banyak satwa-satwa langka di Indonesia menjadi incaran untuk dijual ke luar negeri,"ujarnya.

Perdagangan satwa liar kata M. Arif Nashari diperkirakan beromzet sembilan triliun per tahun. Orangutan kata dia, dibeli dari pemburu Rp 50 per ekor lalu dijual lagi menjadi Rp 3 juta per ekor. Harga tersebut berubah saat dipasarkan ke pasar-pasar penjualan satwa liar Asia-Tenggara menjadi $ 15 Dollar AS dan naik $ 45 Dolar AS ketika dijual di pasar Amerika.

Salah satu penyebab terancam punahnya satwa liar itu yakni perambahan hutan yangtidak bertanggung jawab. Data IMAPA Unmul, laju kerusakan hutan mencapai 3,8 juta hektar per tahun. "Kami mendesak pemerintah untuk menghentikan laju kerusakan hutan yang menjadi habitat satwa liar yang ada di Indonesia. Kami juga meminta petugas yang berwenang (bea cukai dan kepolisian serta instansi terkait) bertindak tegas terhadap pelaku perdagangan satwa liar,"kata Korlap IMAPA Unmul itu. Aksi unjukrasa seruan menghentikan eksploitasi satwa liar itu berakhir sekitar pukul 16. 00 WITA.(*)

Sumber :

http://www.antara.co.id/arc/2008/3/6/408-jenis-satwa-liar-indonesia-terancam-punah/
06/03/08 21:21

Harimau di TNKS Tinggal 136 Ekor

Harimau di TNKS Tinggal 136 Ekor


Mukomuko--MI: Populasi Harimau sumatra (Phantera Tigris Sumaterae) di Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) terus menurun. Saat ini diperkirakan jumlahnya tinggal 136 ekor dari 150 ekor pada 2007 lalu. "Perburuan dan pembukaan lahan diketahui menjadi ancaman dan penyebab berkurangnya populasi binatang langka endemik Pulau Sumatra ini," ungkap Koordinator Flora dan Fauna International (FFI) wilayah Sumatera Debby Martin, Kamis (27/3) saat menjelaskan hasil penelitian mereka.


Penelitian tersebut dilakukan FFI bersama Balai Besar TNKS dan beberapa perguruan tinggi di tanah air dan internasional melalui Monitoring Harimau Sumatra (MHS).


Dari penelitian yang melibatkan Universitas Bengkulu, khususnya Agung Jurusan Kehutanan dan Biologi ini juga diketahui bahwa konflik antara manusia dengan harimau yang berujung pada pembunuhan binatang tersebut juga menjadi penyebab lain berkurangnya populasi. "Dari penelitian terakhir, jumlah populasi saat ini tidak lebih dari 136 ekor dan ini termasuk 25 persen dari seluruh populasi Harimau Sumatera yang masih hidup. Pembukaan lahan dan konflik menjadi ancaman terbesar, kalau perburuan sudah berkurang," katanya.


Debby mengatakan, perambahan areal hutan khususnya Hutan Produksi Terbatas (HPT) dan Hutan Lindung (HL) menjadi perkebunan, yang akhir-akhir ini semakin marak menjadi pemicu terjadinya konflik antara harimau dengan manusia.


Pembukaan lahan tersebut mengakibatkan berkurangnya wilayah jelajah harimau untuk mencari mangsanya sehingga harimau secara tidak sengaja memasuki perkebunan warga, pembukaan lahan juga memudahkan aksi perburuan terhadap harimau sumatra. "Baru-baru ini di Lebong Selatan Kabupaten Lebong, seekor harimau terlihat berada di kebun karet milik warga dan ini menimbulkan keresahan. Kita sudah melakukan penelusuran dan memastikan kondisi sudah aman sehingga harimau selamat, manusia juga selamat," kata perempuan berkebangsaan Inggris yang fasih berbahasa Indonesia ini.


Debby yang berkantor di Sungai Penuh Kabupaten Kerinci, Jambi mengatakan, kasus konflik antara manusia dengan harimau yang ditangani timnya tidak kurang dari 20 kasus per tahun. Ia mengatakan, hingga saat ini tim monitoring berhasil meminimalkan risiko sebab pada umumnya munculnya harimau di sekitar pemukiman penduduk tidak lain untuk mengincar hewan peliharaan penduduk untuk dijadikan mangsa. (Ant/OL-06)


Sumber :

http://www.mediaindonesia.com/
Kamis, 27 Maret 2008 10:44 WIB

Kamis, Maret 06, 2008

Pliosaur Reptil Laut Terbesar Sepanjang Sejarah

Pliosaur Reptil Laut Terbesar Sepanjang Sejarah

Buaya dan hiu mungkin tak ada apa-apanya dibanding 'The Sea Monster', reptil laut terbesar sepanjang sejarah, yang ditemukan di Samudera Artik. Namun reptil ini telah lama punah. Fosilnya diperkirakan berusia 150 juta tahun yang lalu. Ia disebut 'The Sea Monster' karena panjangnya yang mencapai 15 meter dan tinggi 50 kaki, plus gigi-gigi raksasa yang tajam.

Fosil tersebut ditemukan oleh para ilmuwan Norwegia di Kepulauan Spitsbergen, Samudera Artik pada 2006. The Sea Monster merupakan satu dari 40 fosil reptil laut yang ditemukan di kuburan massal mahluk prasejarah tersebut. Selama ekpedisi lapangan terakhir, para ilmuwan menemukan sisa-sisa lainnya yang disebut Pliosaur yang memiliki kesamaan dengan spesies The Sea Monster. Fosil The Sea Monster sebelumnya telah dievakuasi pada Agustus 2007 dan dibawa ke Natural History Museum di Oslo untuk diteliti.

Direktur Ekspedisi Dr Jorn Hurum, dari University of Oslo Natural History Museum, menyatakan spesies ini 20 persen lebih besar dari reptil laut lainnya sejenis Plisiour bernama Kronosaurus yang ditemukan di Australia. ''Kami membawa literatur selama penelitian, sehingga kami tahu bahwa kami memperoleh pliosaur terbesar. Ini tak mungkin terbantahkan,'' ujar Hurum seperti dilansir BBC News, Kamis (28/2). ''Siripnya sepanjang tiga meter, kami belum pernah menyaksikan yang seperti ini sebelumnya.''

Pliosaur yang memiliki leher pendek, merupakan kelompok reptil yang telah punah dan hidup di samudera luas bersamaan dengan masa dinosaurus. Tubuh pliosaur didukung dengan dua sirip yang sangat kuat untuk berenang di air. ''Dia termasuk binatang predator yang sangat kuat,'' ujar ahli palaentologi, Richard Forrest. ''Jika dibandingkan antara tulang pliosaur dengan buaya, sangat jelas tak bisa dibandingkan. Pliosaur yang besar mungkin sebesar bus, sanggup membawa mobil kecil dan menelan separuhnya.''

Sementara, Pulau Spitsbergen, merupakan situs prasejarah yang hanya berjarak 1.300 kilometer dari Kutub Utara. Selain The Monster di sana sebelumnya juga ditemukan Plesiosaurus dan Ichthyosaurus. Keduanya juga merupakan predator utama di laut saat dinosaurus mendominasi daratan. Umumnya hewan kelompok plesiosaurus berenang dengan dua pasang sirip dan memangsa ichthyosaurus yang bentuknya seperti lumba-lumba. Kedua kelompok reptil purba tersebut ikut punah bersama dinosaurus sekitar 65 juta tahun silam. ''Salah satu di antaranya merupakan monster raksasa seperti yang telah saya sebut sebelumnya, dengan ruas tulang belakang yang berukuran sebesar meja makan dan gigi sebesar ketimun,'' ungkap Hurum.

Fosil jenis pliosaur yang merupakan kelompok plesiosaurus memiliki leher pendek dan tulang sangat besar. Fosil sejenis pernah ditemukan sebelumnya di Inggris dan Argentina namun tulangnya tidak lengkap. Tengkorak pliosaur sangat besar dan mungkin memiliki kekerabatan jauh dengan monster Danau Loch Ness, yang masih menjadi mitos sampai sekarang.

Penemuan ini sangat penting karena jarang sekali para peneliti menemukan begitu banyak fosil dalam satu lokasi. Apalagi yang ditemukan adalah dua jenis berbeda yang saling berhubungan dalam rantai makanan. Hurum menduga reptil-reptil tersebut tidak mati pada waktu yang sama, namun sama-sama di era Jurassic dalam rentang ribuan tahun. Lalu, bangkainya sama-sama terkubur dan terawetkan dalam lumpur hitam di dasar samudera. Pada saat itu, daerah Spitsbergen merupakan dasar laut berjarak beberapa ribu kilometer di selatan Oslo yang kemudian terangkat.

Angela Milner, ahli palaentologi di London's Natural Histrory Museum, menyatakan, ada sedikit tulang yang harus disempurnakan untuk melihat bentuk asli pliosaurs. Namun demikian, kata dia, rekaan yang pertama sangat signifikan untuk menunjukkan 'The Sea Monster' sebagai hewan raksasa. ''Akan menjadi perdebatan panjang siapa yang layak disebut sebagai predator utama di lautan sepanjang sejarah,'' jelasnya.

Pliosaurs, kata Milner, adalah reptil dan hampir pasti jenisnya berdarah panas sehingga penemuan ini juga bermanfaat untuk memperlihatkan lempeng tektonik dan iklim di zaman purba. ''Lima juta tahun lalu, Pulau Spitsbergen, Svalbard tidak dekat dengan North Pole, tak ada es di sana. Dan iklim semestinya lebih hangat dibanding sekarang,'' tegasnya.

Nama Hewan: Pliosaur (The Sea Monster)
Jenis: Binatang laut (predator)
Keluarga: Plesiosaur
Umur fosil: 15 juta tahun
Panjang tubuh: 15 meter
Tinggi 50 kaki (cukup untuk memangsa sebuah bus)
Tempat bersemayam : Kepulauan Spitsbergen (Samudera Artik).
Kondisi saat ini: Berada di National Museum History Oslo, Norwegia. (eye)

Sumber :
http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=13
Jumat, 29 Februari 2008 11:00:00

Kamis, Februari 28, 2008

Spesies Baru Ikan Tawar Papua untuk Lelang Nama

Spesies Baru Ikan Tawar Papua untuk Lelang Nama

Jakarta, Rabu - Sebanyak 11 spesies baru ikan tawar yang ditemukan Tim Ekspedisi Ikan Air Tawar 2007 di Papua oleh Badan Riset Kelautan dan Perikanan, Akademi Perikanan Sorong dan Lembaga Riset Perancis IRD-France diserahkan kepada pemerintah. Pemerintah diharapkan selanjutnya melelang nama spesies- spesies baru itu untuk menghimpun dana riset dan pendidikan di Papua."Ada contoh yang menarik ketika Pangeran Monaco juga melelang nama-nama ikan spesies baru dan menarik minat para filantropis. Cara serupa layak untuk diterapkan pada ikan spesies baru dari Papua," kata Kepala Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP) Departemen Perikanan dan Kelautan Indroyono Soesilo, Rabu (27/2) di Jakarta.

Menurut Indroyono, tim ekspedisi mengidentifikasi 11 spesies baru ikan tawar itu dari beberapa sungai dan jeram di wilayah Batanta dan Salawati di wilayah Raja Ampat, juga sungai-sungai di Sorong Selatan dan di Manokwari. Jenis ikan tersebut selama ini dikenal sebagai ikan pelangi (rainbow fish) dari kelompok Melanotaenia."Ekspedisi itu dijalankan dalam kurun Juni sampai Juli 2007 lalu, kemudian pada akhir Desember 2007 berhasil ditetapkan 11 spesies baru ikan tawar dari kelompok Melanotaenia," kata Indroyono. (KOMPAS/NAW)

Sebanyak sembilan dari 11 spesies baru ikan pelangi (rainbow fish) asal papua dari kelompok Melanotaenia berhasil ditemukan Tim Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP)- Akademi Perikanan Sorong-IRD Perancis pada Ekspedisi Ikan Air Tawar 2007 di sungai-sungai wilayah Sorong, Raja Ampat dan Manokwari.

http://www.kompas.co.id/read.php?cnt=.xml.2008.02.28.13281571&channel=1&mn=53&idx=56
Kamis, 28 Februari 2008 13:28 WIB

Terungkap Rahasia di Balik Penyamaran Ulat

Terungkap Rahasia di Balik Penyamaran Ulat

Jakarta, Senin - Jika dilihat sekilas, ulat yang biasa makan daun jeruk nipis ini kadang terlihat seperti kotoran burung dengan warna campuran hitam dan putih. Kadangkala ulat berwarna hijau sewarna dengan daun.

Ulat yang sebenarnya larva kupu-kupu Asia berekor cabang (swallowtail) ini memang memiliki teknik penyamaran yang variatif untuk menghindari ancaman predator. Larva muda menyamar seperti kotoran burung dan berubah menjadi hijau menjelang fase akhir sebelum menjadi kepompong.

Penelitian baru menunjukkan bahwa kemampuannya mengubah teknik penyamaran ini ditentukan hormon tertentu yang dihasilkan selama fase larva. Saat ulat mengakhiri fase penyamaran menyerupai kotoran burung, kadar hormon menurun sehingga tubuhnya berubah menjadi berwarna hijau. "Hormon ini telah diketahui menentukan proses pembentukan kulit, metamorfosis dan lainnya," ujar Haruhito Fujiwara dari Universitas Tokyo seperti dilansir Nasional Geographic, Jumat (21/2). Namun, baru kali ini terkuat bahwa hormon tersebut juga mengatur perubahan warna tubuh selama fase larva.

Hormon tersebut juga mengatur tekstur tubuh ulat dan distribusi pigmen yang menghasilkan warna di tubuhnya untuk menyempurnakan penyamarannya. Temuan Fujiwara bersama Ryo Futahashi yang juga dari Universitas Tokyo ini dilaporkan dalma jurnal Science terbaru edisi Jumat (22/2).(NATIONAL GEOGRAPHIC/WAH)

http://www.kompas.co.id/read.php?cnt=.xml.2008.02.25.14332784&channel=1&mn=53&idx=56
Senin, 25 Februari 2008 14:33 WIB

Ditemukan, Fosil Empat Burung Laut Raksasa

Ditemukan, Fosil Empat Burung Laut Raksasa

Jakarta, Senin - Fosil burung-burung laut purba berukuran besar ditemukan di Pulau Chatham, Selandia Baru. Para peneliti menemukan empat spesies yang semuanya diperkirakan hidup sezaman dengan dinosaurus. "Ini fosil burung tertua di Selandia Baru dan penting untuk mempelajari asal-usul burung modern," ujar Jeffrey Stilwell dari Universitas Monash, Australia, seperti dilansir National Geographic, Jumat (22/2). Burung-burung tersebut hidup di Periode Cretaceous sekitar 65 juta tahun lalu.

Namun, ia belum bersedia menjelaskan secara rinci deskripsi burung-burung tersebut karena belum terpublikasi dalam jurnal ilmiah. Fosil-fosil tersebut telah dikirim kepada Sylvia Hope, pakar burung di Akademi Sains Califonia, San Fransisco, AS, untuk diidentifikasi.

Stilwell hanya mengatakan bahwa keempat spesies mungkin tidak hanya spesies baru namun juga mewakili dua genus (marga) baru. Ukurannya relatif tinggi dan hanya satu spesies yang tingginya di bawah 30 centimeter. "Kami menemukan salah satu yang tingginya lebih dari semeter dan kami punya tulang yang lebih besar dari pada lainnya, "jelas Stilwell. (NATIONAL GEOGRAPHIC/WAH)

http://www.kompas.co.id/read.php?cnt=.xml.2008.02.25.13531135&channel=1&mn=53&idx=56
Senin, 25 Februari 2008 13:53 WIB

Monster-Monster Laut Tertangkap dari Perairan Antartika

Monster-Monster Laut Tertangkap dari Perairan Antartika

Sydney, Selasa - Dari perairan dingin Antartika, para ilmuwan berhasil merekam dan menangkap makhluk-makhluk laut raksasa. Salah satu monster laut itu berbentuk mirip laba-laba laut namun berukuran sebesar piring makan. Seekor ubur-ubur yang memiliki tentakel hingga 6 meter juga ikut ditangkap. "Gigantisme sangat biasa di perairan Antartika, kami telah mengumpulkan cacing raksasa, udang raksasa dan laba-laba laut yang sebesar piring ini," ujar Martin Riddle, ilmuwan Australia, Selasa (19/2). Banyak di antaranya ikan-ikan yang hidup di kegelapan dan bermata besar sehingga terlihat menakutkan.

Makhluk-makhluk laut yang misterius itu adalah sebagian dari koleksi yang dikumpulkan para peneliti dari Laut Selatan selama ekspedisi CEAMARC (Collaborative East Antarctic Marine Sensus). Sekitar 25 persen sampel yang dikoleksi diperkirakan baru dalam dunia sains hewan. Masing-masing seberat rata-rata 30 kilogram dan sebagain diambil dari kedalaman antara 200-1400 meter. Pengambilan sampel dimaksudkan sebagai sensus kehidupan laut di dekat Kutub Selatan. Para peneliti gabungan dari Jepang, Australia dan Prancis melakukan ekspedisi dengan tiga kapal ilmiah, masing-masing Aurora Australia, L'Astrolabe milik Prancis dan Umitaka Maru milik Jepang. "Spesimen-spesimen yang dikumpulkan akan dikirim ke universitas-universitas dan museum-museum di sleuruh dunia untuk diidentifikasi, diperiksa jaringannya dan dikodekan DNA-nya," ujar Graham Hosie, ketua proyek sensus dari kapal Umitaka Maru. Para ilmuwan menggunakan data-data pengukuran ini untuk menilai perubahan ekosistem laut dalam akibat pemanasan global.

CEAMARC adalah bagian dari sensus kehidupan laut Antartika yang dikoordinasikan Australian Antarctic Division. Sepanjang Tahun Kutub Internasional (2007-2009) telah dijadwalkan pengiriman 16 kapal ilmiah untuk melakukan penelitian.(REUTERS/WAH)

http://www.kompas.co.id/read.php?cnt=.xml.2008.02.19.15283212&channel=1&mn=53&idx=56
Selasa, 19 Februari 2008 15:28 WIB

'Katak Setan' Ditemukan di Madagaskar

'Katak Setan' Ditemukan di Madagaskar

Washington, Senin - Spesies katak yang hidup di zaman dinosaurus ini disebut 'katak setan'. Bukan karena katak tersebut sudah punah lalu bergentayangan lho. Para ilmuwan yang menemukan fosilnya menyebutnya demikian karena ukuran tubuhnya yang besar dan bentuknya yang aneh.

Mereka memberinya nama Beelzebufo ampinga, diambil dari Beelzebub, yang berarti setan dalam bahasa Yunani dan bufo, berarti katak dalam bahasa Latin. Ampinga berarti perisai untuk menunjukkan ciri khas tubuhnya yang sekilas menyerupai baju baja.

Dengan panjang tubuh 40 centimeter dan berat 4,5 kilogram, ia paling besar di antara spesies katak yang pernah hidup di Bumi. Katak Goliath yang masih hidup di Afrika Barat hanya seberat 3,5 kilogram. Namun, ia tidak berkerabat dekat dengan katak Goliath, melainkan dengan katak di Amerika Selatan yang disebut Ceratophyrs atau katak Pac Man karena mulutnya yang besar. Keduanya sama-sama memiliki semacam tanduk di kepalanya.

Mulutnya memang sangat lebar dengan rahang yang kuat. Ia mungkin mengunyah mangsanya dengan sengit. Bahkan, katak setan mungkin juga memangsa bayi dinosaurus. "Tidak dipungkiri bahwa Beelzebufo mungkin memangsa kadal, mamalia dan katak-katak lebih kecil bahkan dinosaurus yang baru menetas," ujar David Krause dari Universitas Stony Brook, New York, AS. Krause menemukan fosil tersebut di bagian barat laut Madagaskar sejak tahun 1993 namun deskripsi makalahnya baru dimuat dalam jurnal Proceedings of the national Academy of Sciences edisi Senin (18/2). Katak tersebut diperkirakan hidup di Periode Cretaceous antara 65-70 juta tahun lalu.

Temuan ini tidak hanya mengejutkan namun memberi petunjuk baru mengenai sejarah Madagaskar. Pulau di Samudera Hindia tersebut mungkin pernha bersatu dengan merika Selatan atau katak bermigrasi melalui Antartika yang saat itu masih hangat.(AP/WAH)

http://www.kompas.co.id/read.php?cnt=.xml.2008.02.19.12154943&channel=1&mn=53&idx=56
Selasa, 19 Februari 2008 12:15 WIB

Unair Bedah Paus Kepala Melon

Unair Bedah Paus Kepala Melon

Laporan wartawan Kompas Kris R Mada

Surabaya, Senin- Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, Senin (18/2), membedah Paus Kepala Melon (Peponochepala electra). Mamalia laut yang dilindungi itu akan dijadikan bahan pelajaran.

Kepala Departemen Patologi FKH Unair Hani Plumariastuti mengatakan, paus itu diterima pagi tadi dalam keadaan mati, dikirim oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur untuk dipelajari. "Ini pertama kali kami mendapat Paus Kepala Melon," ujarnya. Sementara ini, disimpulkan kematian disebabkan karena usia tua.

Paus jantan itu telah mencapai usia rata-rata maksimal spesiesnya, 50 tahun. "Selain itu, kondisi tubuhnya lemah antara lain karena kematian jaringan pada Jantung dan hati," ujarnya. Paus itu terdampar di Pantai Kenjeran Surabaya pada hari Jumat lalu bersama seekor paus sejenis berjenis kelamin betina. Tetapi, paus betina sehat dan sudah dilepaskan kembali ke laut.

Sedangkan paus jantan mati dan dikirimkan ke FKH Unair untuk dipelajari. Saat ini, paus itu telah selesai dibedah. Sebagian besar organ dalam tubuhnya akan diawetkan. Tubuh dan kerangkanya juga akan diawetkan sehingga bisa dipelajari di kemudian hari. Kris R Mada

http://www.kompas.co.id/read.php?cnt=.xml.2008.02.18.1503364&channel=1&mn=53&idx=56
Senin, 18 Februari 2008 15:03 WIB

Rabu, Februari 27, 2008

Orangutan Punah Delapan Tahun Lagi

Orangutan Punah Delapan Tahun Lagi

Tebo, Kompas - Orangutan diperkirakan punah dalam delapan hingga sepuluh tahun mendatang apabila pembukaan hutan di Sumatera dan Kalimantan tetap berlangsung agresif. Konservasi habitat aslinya di kawasan hutan diperlukan untuk menjaga keberlangsungan spesies berstatus terancam punah ini.

Direktur Konservasi Paneco Sumatran Orangutan Conservation Programme, Ian Singleton mengatakan, jumlah orangutan terus berkurang sekitar 5.000 ekor setiap tahun, seiring maraknya pembukaan habitat asli sepesies ini menjadi perkebunan sawit. Orangutan kini hanya tinggal 6.500 ekor di Sumatera dan 45.000 ekor di Kalimantan. Kalau pembukaan lahan terus terjadi di hutan Sumatera dan Kalimantan, hanya sekitar delapan sampai sepuluh tahun, kita tak dapat lagi melihat orangutan, ujarnya.

Pembukaan hutan, menurut Ian, menyulitkan orangutan mendapatkan sumber-sumber makanan. Mereka semakin terimpit dan populasinya menjadi lebih padat pada hutan yang tersisa. Namun, jumlah mereka secara keseluruhan terus menurun. ITA

http://www.kompas.com/read.php?cnt=.xml.2008.02.24.14051912&channel=1&mn=42&idx=43
Minggu, 24 Februari 2008 14:05 Wib

Rabu, Februari 20, 2008

BKSDA Selidiki Pendagangan Organ Harimau Sumatera

BKSDA Selidiki Pendagangan Organ Harimau Sumatera

Medan, Selasa - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Utara tengah meneliti dugaan praktik perdagangan organ tubuh Harimau Sumatera, yang menurut survai marak dilakukan di daerah ini.

Penelitian itu dilakukan terkait laporan survei TRAFFIC Southeast Asia yang menemukan bahwa Medan dan Kota Pancurbatu, Kabupaten Deli Serdang merupakan kota singgahan utama bagi perdagangan organ-organ tubuh satwa langka itu. Kepala BKSDA Sumut, Ir. Djati Witjaksono Hadi, ketika dikonfirmasi di Medan, Selasa (19/2), menyatakan, BKSDA akan menindak tegas para pelaku apabila laporan tersebut terbukti.

"Perdangangan bebas satwa yang dilindungi itu tidak bisa dibiarkan terus merajalela, karena mengancam populasi harimau Sumatera," katanya. Pihaknya sudah meminta data dan informasi yang akurat mengenai perdagangan harimau Sumatera. Begitu juga mengenai foto-foto yang diperoleh lembaga survey tersebut. Apakah memang benar foto-foto harimau Sumatera yang diambil itu berada di kawasan hutan Sumut.

Hal ini terpaksa dilakukan oleh petugas BKSDA Sumut untuk menguji kebenaran laporan tersebut. Apalagi laporan yang dikeluarkan oleh lembaga survei itu adalah hasil penelitian pada tahun 2006 dan bukan yang terbaru. "Kita tidak mau hasil survai yang disampaikan itu tidak sesuai nantinya dengan yang ada di lapangan," ujarnya. Pihak BKDA Sumut jelas tidak akan membiarkan penjualan satwa tersebut karena membiarkan juga dianggap pelanggaran hukum.Menurut survei TRAFFIC, organ-organ tubuh harimau Sumatera seperti gigi, taring, cakar, kulit, kumis dan tulang telah diperjualbelikan pada 10 persen toko dari 326 toko yang disurvai di 28 kota di Sumatera pada 2006. Survei menduga, sedikitnya ada 23 harimau diburu untuk mensuplai toko-toko ritel itu, berdasarkan jumlah gigi taring yang ada di pasaran. Kendati jumlah itu turun dari dugaan 52 ekor harimau Sumatera dibunuh antara tahun 1999 hingga 2002.(ANT/WAH)

http://www.kompas.com/read.php?cnt=.xml.2008.02.19.18125972&channel=1&mn=42&idx=43
Selasa, 19 Februari 2008 18:12 Wib

Minggu, Februari 17, 2008

BKSDA Sultra Amankan Burung Bersayap Dua Meter

BKSDA Sultra Amankan Burung Bersayap Dua Meter

Kendari (ANTARA News) - Kantor Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Sulawesi Tenggara (Sultra) mengamankan seekor satwa langka burung Pelican Australian (Pelecanus Conspiciccanus) atau Undan Kacamata (sebutan dalam bahasa Indonesia).Kepala BKSDA Sultra Fred Kurung di Kendari, Minggu, mengatakan, Undan Kacamata yang lebar sayapnya sekitar dua meter dapat terbang melintas antarnegara.

Pelican Australian yang beratnya mencapai 15 kilogram ditemukan nelayan diperairan bagian timur Indonesia yang berbatasan dengan Australia. "Yang jelas Pelican Australian adalah burung yang habitatnya di laut tetapi kami bingung mau lepaskan dimana karena diperairan Sultra tidak ada burung seperti ini," katanya.Dua alternatif bagi burung Pelican Australian, yakni dikembalikan ke habitatnya --dilaut-- atau diserahkan ke Lembaga Konservasi yang profesional mengurus satwa liar, antara lain, Taman Safari di Jakarta. Pelican Australia diserahkan Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Daerah (Bapedalda) Sultra, Ilham Latif.

Data dari Buku tentang Jenis Burung bahwa Pelican Australian yang bulunya berwarna dominan putih dan sedikit warnah hitam sebarannya di jazirah Wallacea (Sulawesi, Kepulauan Banggai, Halmahera, Seram, Ambon, Kepulauan Banda, NTB dan perairan perbatasan Indonesia-Australia). Pelican Australian yang tingginya sekitar 90 Cm setiap hari mengkomsumsi ikan hidup sekitar 3 Kg. "Sulit mengurus burung Pelican Australian karena harus disuguhi ikan hidup," kata pegawai BKSDA Sultra, Sahid.(*)

Sumber :
http://www.antara.co.id/arc/2008/2/3/bksda-sultra-amankan-burung-bersayap-dua-meter/
03/02/08 08:27

BKSDA: Gajah di Hutan Sumbar Punah

BKSDA: Gajah di Hutan Sumbar Punah

Padang (ANTARA News) - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) menyatakan populasi gajah di 12 kawasan hutan konservasi di Sumatera Barat, diduga punah, karena sudah dalam kurun waktu belasan tahun terakhir hewan itu sudah tidak terlihat lagi. "Data secara rinci tentang populasi gajah yang tersisa tidak ada di BKSDA, sebab dalam belasan tahun terakhir tak terdengar muncul di kawasan hutan provinsi itu," kata Rusdian, staf bagian penanganan konflik satwa di BKSDA Sumbar, di Padang, Kamis.

Menurut dia, diyakini satwa dilindungi tersebut nyaris tak ada lagi di hutan Sumbar, jika pun ada sepuluh tahun terakhir pasti ditemukan masyarakat, bisa jadi datang dari kawasan hutan konservasi Provinsi Riau. Terkait habitatnya di provinsi tetangga itu yang kian terganggu sehingga sewaktu-waktu bisa masuk ke hutan Sumbar, namun hal itu jarang terjadi. "Pada tahun 1980-an memang masih ada gajah di Sumbar, tapi belakangan tak lagi ada laporan temuan gajah oleh warga yang bermukim di pinggir hutan," tuturnya.

Kabarnya, pernah ada gajah yang ditemukan oleh para pemburu satwa di kawasan hutan Kabupaten Lima Puluh Kota --perbatasan dengan Riau--, begitu juga di hutan perbatasan Sumbar dengan Jambi. Kepunahan gajah di hutan Sumbar diduga akibat habitatnya yang kian terganggu sebagai dampak dari aksi pembalakan liar dan juga faktor geografis kawasan hutan Sumbar yang banyak perbukitannya.Gajah lebih banyak berkembang pada kawasan hutan yang tanahnya datar, karena sistem kehidupan satwa itu, berjalan secara berombongan dan daerah teritorialnya selalu memutar. "Jika ada konflik antara gajah dengan manusia, biasanya karena jalur teritorialnya terganggu, dan tiap tahun konflik akan tetap terjadi," katanya. Satwa berbelalai itu sistem hidupnya memutar tiap tahunnya akan terus melewati jalan yang pernah ditempuhnya.(*)

Sumber :
http://www.antara.co.id/arc/2008/1/31/bksda-gajah-di-hutan-sumbar-punah/
31/01/08 11:19

Selasa, Januari 29, 2008

Moyang Ayam adalah Ayah Hutan Merah

Moyang Ayam adalah Ayah Hutan Merah

JAKARTA—MEDIA : Hasil penelitian DNA molekuler menemukan bahwa Ayam domestikasi berasal dari satu moyang (monophyletic), yaitu spesies Ayam hutan merah (Gallus gallus). "Hasil analisis ini juga menunjukkan bahwa Indonesia adalah salah satu dari tiga wilayah yang dinyatakan sebagai pusat domestikasi ayam pertama kali di dunia selain di China dan India," kata Peneliti Lab DNA Puslit Biologi LIPI Dr Sri Sulandari, yang dihubungi di Jakarta, Selasa.

Ia mengatakan, melalui analisis DNA semua rumpun ayam di dunia telah dibuat pohon pilogeninya dan mengelompokkan rumpun ayam di dunia menjadi tujuh clade, terdiri dari clade I, II, IIIa, IIIb, IIIc,IIId, IV. Dikatakannya, ayam termasuk kelas Aves, ordo Galliformes, famili Phasianidae dan genus Gallus. Ayam yang selama ini telah dipelihara secara luas termasuk dalam spesies Gallus galus yang telah didomestikasi dan dinamakan Gallus gallus domesticus. Spesies lain yang masih hidup liar di hutan dari genus Gallus gallus termasuk dalam Red jungle fowl yang sebarannya meliputi China, India dan Asia Tenggara.

Sedangkan Gallus varius (Green jungle fowl) distribusinya meliputi Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores dan pulau kecil disekitarnya, Gallus lafayettii (Sri lanka Jungle fowl) distribusinya hanya di Sri Lanka, sedangkan Gallus sonneratii (Grey jungle fowl) distribusinya meliputi India bagian Selatan dan Barat.

Perkembangan ilmu pengetahuan dalam bidang genetika molekuler telah membuka cakrawala baru dan banyak digunakan sebagai alat analisis taksonomi yang akurat. Para taksonom pada abad ini telah banyak menggunakan aplikasi teknologi DNA untuk membedakan berbagai spesies hewan serta hubungan kekeluargaan dari suatu spesies dengan spesies lainnya, katanya. "Dari analisis ini antara Ayam domestikasi dengan Ayam hutan merah (Gallus gallus) terlihat hubungan kekerabatan lebih jelas, yaitu Ayam hutan merah berada di lingkaran besar Ayam domestikasi," katanya. (Ant/OL-06)

Sumber :
http://www.mediaindonesia.com
23 Januari 2008

Gagak Banggai Ditemukan Kembali

Gagak Banggai Ditemukan Kembali

Jakarta (ANTARA News) - Dua peneliti biologi konservasi dari Perhimpunan Ornitolog Indonesia, Yunus Masala dan Dr Mochamad Indrawan, berhasil menemukan kembali burung Kuyak atau Gagak Banggai (Corvus unicolor) di habitat aslinya, yaitu di Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah. Seperti dikutip dari keterangan tertulis Perhimpunan Ornitolog Indonesia yang diterima ANTARA, di Jakarta, Selasa, meski telah dikenal ilmu pengetahun sejak 115 tahun silam, belum pernah ada peneliti yang melihat Gagak Banggai di alam bebas atau dalam keadaan hidup.

Selama ini, keberadaan Gagak banggai hanya diketahui berdasarkan dua spesimen (hasil awetan) di Museum Sejarah Alam Amerika Serikat, di kota New York. Kedua awetan itu berasal dari lokasi yang tidak diketahui di Banggai Kepulauan. Penduduk setempat menjualnya kepada pedagang dari Jerman, Menden, pada tahun 1898. Sayangnya, di Indonesia, di tempat asal burung ini tidak ada satu spesimen pun. Beberapa peneliti mancanegara, termasuk Australia (tahun 1980-an) dan Amerika Serikat (tahun 2005), yang berhasil mencapai Banggai Kepulauan pun tidak pernah berhasil menemukan burung ini.

Itu sebabnya lembaga konservasi dunia (IUCN) memandang burung ini sebagai spesies yang berstatus "kritis", bahkan pada tahun 2006 sempat digolongkan sebagai spesies yang "kemungkinan sudah punah". Masalah dan Indrawan telah melakukan penelitian spesies dan ekosistem alami Banggai Kepulauan sejak tahun 1991.

Akhirnya mereka berhasil menemukan kembali gagak banggai di hutan tropis Pegunungan Peleng yang cukup terjal. Peleng adalah salah satu pulau terbesar di Banggai Kepulauan yang memiliki keanekaragaman hayati darat dan laut berkelas dunia. Presentasi kedua peneliti ini akan disampaikan secara umum di LIPI Biologi, Cibinong, pada Rabu (4 Juli) pukul 09.00 WIB.(*)

Sumber :
http://www.antara.co.id/arc/2007/7/3/gagak-banggai-ditemukan-kembali/
03/07/07 16:26

Jumat, Januari 04, 2008

Hewan Langka Mirip Jerapah Terlihat Kembali

Hewan Langka Mirip Jerapah Terlihat Kembali

Jakarta, Senin - Sejumlah okapi (Okapia johnstoni) terlihat kembali di Taman Nasional Virunga, Republik Demokrasi Kongo. Para aktivis lingkungan dari World Wildlife Fund (WWF) berhasil merekam jejak 17 ekor hewan langka yang mirip dengan jerapah itu.

"Kami dapat melacaknya dengan baik, merekam jejaknya, kotorannya, dan tanda-tanda yang menunjukkan ke mana hewan itu berada," kata Peter Stepehenson dari WWF. Hewan yang tinggal di hutan-hutan Afrika Tengah tersebut terakhir kali dilihat pada 1959.

"Namun, kami hanya menemukan 17 jejak okapi yang berbeda. Ini menunjukkan hanya ada beberapa ekor di sana - kami tidak dapat memastikan ada berapa banyak. Bagi kami, yang paling penting bukti bahwa mereka ada di sana," kata Stephenson.

Perang dan perburuan

Kehidupan liar di hutan-hutan Kongo terancam karena perang sipil. Banyak spesies liar yang menurun drastis karena perburuan yang berlebihan. Habitat Okapi di bagian Timur Kongo berada di wilayah konflik yang berlangsung selama bertahun-tahun. Para aktivis lingkungan di Kongo telah berusaha keras mempertahankan hutan-hutan yang menjadi tempat hidup Okapi.

Penemuan kembali Okapi sebulan setelah pemilihan umum di negara Afrika tersebut menjadi sinyal positif. Hal tersebut menunjukkan bahwa pembangunan berkelanjutan untuk melindungi hutan dan komunitas lokal terbayarkan sudah.

Okapi biasanya tumbuh hingga sepanjang 2,5 meter dan tinggi 2 meter. Meskipun memiliki garis-garis hitam putih di kakinya seperti Zebra, Okapi lebih dekat kekerabatannya dengan Jerapah.

Sebelumnya, hewan tersebut diduga hanya tersisa di Okapi Wildlife Reserve di bagian Timur Kongo. Beberapa ekor Okapi juga dipelihara di berbagai kebun binatang.

Sumber :
http://www.kompas.com
Rabu, 14 Juni 2006 - 14:00 wib