Tampilkan postingan dengan label ENERGI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ENERGI. Tampilkan semua postingan

Jumat, Februari 29, 2008

Jalan Berliku Energi Alternatif

Jalan Berliku Energi Alternatif

Ninok Leksono

”’Boom biofuel’ datang ketika produksi pangan harus berlipat ganda guna memberi makan tiga miliar lagi mulut yang akan hadir pada tahun 2050…. Dalam konteks ini, sungguh ide yang terdengar bodoh untuk menggunakan bahan pangan sebagai bahan bakar”. (David Tilman, ekolog Universitas Minnesota, Science/IPS/JP, Feb 07)

Pada masa ketika harga minyak semakin mencekik, juga pada masa ketika ketergantungan terhadap batu bara tidak saja tidak kondusif bagi lingkungan, tetapi juga rawan terlambat dipasok (sehingga pembangkit listrik harus beristirahat), kerinduan terhadap energi alternatif dirasakan semakin besar.

Pertanyaannya, energi alternatif manakah yang dapat menggantikan energi fosil? Energi terbarukan, seperti energi surya, energi angin, energi geotermal dan energi gelombang laut, memang terdengar menarik. Namun, tingkat kesiapan dan persentase pemanfaatan energi terbarukan ini bisa dikatakan masih insignifikan dibandingkan dengan kebutuhan yang ada.

Dalam kesulitan, sejumlah komunitas berprakarsa membangun pembangkit listrik tenaga mikrohidro yang memanfaatkan arus sungai. Prakarsa masyarakat ini tentu saja amat dihargai, tetapi lingkupnya tentu ber- sifat amat lokal. Kini bahkan mulai muncul upaya untuk menggunakan air sebagai energi. Laporan Iptek pekan silam tentang ”Solar Impulse” bahkan mengunggulkan energi surya untuk penerbangan masa depan yang bersih lingkungan.

Energi nuklir? Mengikuti wacana yang muncul beberapa waktu belakangan ini memunculkan kesan bahwa nuklir masih akan mendaki jalan terjal di negeri ini. Waktulah yang kelak akan memperlihatkan siapa yang lebih rasional dalam upaya penerapan energi ini di bumi Indonesia. Lepas dari kebutuhan untuk mengkajinya secara kepala dingin, dalam hal nuklir boleh jadi situasi Indonesia serupa dengan AS. Harian The New York Times tanggal 24 Januari silam menurunkan artikel Roger Cohen berjudul ”America Needs France’s Atomic Anne”.

Dalam tulisan itu dikatakan, betapa senjangnya penggunaan energi nuklir di Perancis dan di AS. Perusahaan energi nuklir Perancis, Areva, bisa menyediakan sekitar 80 persen listrik negara dari 58 PLTN dan kini sedang membangun reaktor generasi baru di Flamanville yang akan selesai tahun 2012. Perancis bahkan bisa mengekspor keahlian di bidang energi nuklir ke berbagai negara, mulai dari China hingga ke Uni Emirat Arab.

Sementara di AS, energi nuklir hanya menyumbang 20 persen pasokan listrik nasional, tak punya reaktor baru sejak 1996 dan debat mengenai tenaga nuklir terus saja melumpuhkan meskipun orang melihat sistem ini membangkitkan listrik secara bersih di era pemanasan global. AS memang tak punya sosok yang dijuluki ”Atomic Anne”, yang merupakan saleswoman pengusung semangat ”Vive les Nukes”. Para kandidat presiden pun menampilkan pandangan beragam, ada yang pro ada yang kontra, tetapi secara keseluruhan prospek nuklir masih suram di AS.

Kalau 70 persen warga Perancis pronuklir, bangsa-bangsa lain punya kategori lain. Jerman tak memandang sebelah mata pun terhadap nuklir, oleh Cohen disebut silly-green, sementara bangsa Inggris termasuk smart- green karena meskipun sadar isu lingkungan, mereka menghidupkan kembali pembangkit nuklirnya. Cohen menegaskan, energi nuklir merupakan alternatif vital bagi pembangkit batu bara yang menyemburkan gas-gas rumah kaca (GRK) dan pembangkit tipe ini menyumbang separuh dari pembangkitan listrik Amerika.

Ditekankan, energi angin dan surya wajib dikembangkan. Namun, hingga pertengahan abad ini pun, kontribusinya masih akan tetap kecil. Dari ribuan kilometer persegi yang disediakan untuk menjaring energi angin, energi yang dihasilkan tak bisa diperbandingkan dengan pembangkit nuklir yang hanya menempati kurang dari 1,6 kilometer persegi. Namun, AS tetap dilanda kelumpuhan nuklir.

”Biofuel” pun dikritik

Kalau energi angin semakin ditambang di kawasan Eropa, energi alternatif lain banyak berkembang di Asia Tenggara, yakni biofuel, atau bahan bakar yang berasal dari sumber organik. Sebelum ini biofuel dianggap bisa menjadi bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan. Namun, menurut penelitian mutakhir, ada dampak buruk yang ditimbulkan dari produksi biofuel. Seperti dilaporkan oleh Stephen Leahy dari IPS/Brooklin Kanada (JP, 11/2), biofuel justru membuat perubahan iklim tambah buruk karena emisi GRK total dari biofuel jauh lebih tinggi dibandingkan dari pembakaran bensin. Ini karena produksi biofuel mendongkrak harga bahan pangan dan menimbulkan deforestasi serta hilangnya padang rumput.

Emisi dari etanol 93 persen lebih tinggi dibandingkan bensin, ujar David Tilman, ekolog di Universitas Minnesota, yang ikut menulis makalah yang dimuat di jurnal Science yang terbit awal bulan ini. Ditambahkan bahwa menggunakan tanah pertanian yang baik untuk biofuel meningkatkan emisi GRK, tambah Tilman. Misalnya saja etanol yang dibuat dari jagung diandaikan bisa mengurangi GRK 10-20 persen dibandingkan dengan pembakaran bensin.

Namun, studi-studi terdahulu tidak memperhitungkan fakta bahwa ketika tanah pertanian digunakan untuk penanaman bahan bakar, akan berkuranglah lahan untuk menanam tanaman pangan di negara yang masih banyak dilanda kelaparan. Hasil panen yang terbatas menyebabkan harga bahan pangan membubung dan itu berikutnya mendorong orang melakukan konversi hutan dan padang rumput asli untuk menanam tanaman pangan. Padahal, mengubah hutan dan padang rumput dalam konteks perubahan iklim amat dilarang. Lebih jauh dikemukakan bahwa setiap hektar lahan yang dikonversi menghasilkan timbunan GRK sekitar 351 ton di atmosfer. Lahan yang dibiarkan alami mengikat karbon selama ratusan tahun.

Terus mengkaji

Kendala dan tantangan tampak menghadang di depan dalam upaya memanfaatkan energi alternatif. Namun, Indonesia tak boleh menyerah karena akan terlalu mahal konsekuensi yang harus ditanggung bila terus menyandarkan diri pada energi fosil. Bukan saja harganya semakin tidak terjangkau, tetapi terhadap lingkungan pun akan salah besar.

Seperti terhadap nuklir yang masih terus kontroversial, sebagai bangsa yang ingin keluar dari lilitan persoalan, sebenarnya sikap yang lebih positif adalah terus mengkaji berbagai aspeknya, bukan serta-merta menutup peluangnya. Sebaliknya terhadap biofuel yang sebelum ini sudah kita pandang positif, baik juga kita masukkan hasil penelitian baru di atas. Masalahnya adalah deforestasi banyak dilakukan di Asia Tenggara untuk diganti dengan tanaman kelapa sawit.
Tampak bahwa meski dibutuhkan mendesak, pemanfaatan energi alternatif tidak semudah seperti dibayangkan.

http://www.kompas.co.id/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.02.27.02452662&channel=2&mn=154&idx=154
Rabu, 27 Februari 2008 02:45 WIB

Ampas Tahu Jadi Biogas

Ampas Tahu Jadi Biogas

Sumidi (45) sibuk memaku sabuk dari ban di tengah suasana bising dan hawa panas pabrik tahu di Dusun Kanoman, Desa Gagaksipat, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Senin (25/2) siang. Sabuk itu adalah salah satu bagian dari alat produksi tahu yang rusak.

Sejurus kemudian sang istri, Wastini (40), melintas. Siang itu ia sudah selesai masak. Ia tidak lagi cemas soal harga minyak tanah yang mahal dan sulit dicari. Wastini sekarang memasak menggunakan gas. Bukan gas hasil pembagian program konversi minyak tanah ke gas, melainkan dihasilkan dari proses pengolahan limbah pembuatan tahu dari pabrik tahu milik suami. Sudah tentu, gratis. ”Biasanya, sehari habis dua liter minyak tanah. Sekarang bisa masak sepuasnya, kapan saja, dengan gas gratis. Uang beli minyak untuk menambah uang jajan anak sekolah,” ungkapnya.

Bukan hanya Wastini yang menikmati gas gratis. Dua rumah tangga lainnya juga menikmati biogas limbah tahu dari pabrik tahu Sumidi. ”Sebenarnya bisa untuk lima rumah. Kalau ada tetangga yang mau pakai gas, kami persilakan. Namun, harus menyediakan sendiri kompor dan pipa penyalur gas,” tutur Sumidi.

Sumidi boleh bersenang hati karena terpilih sebagai penerima bantuan pembuatan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) biogas dari Pemerintah Kabupaten Boyolali. Dengan biaya sekitar Rp 40 juta, di belakang rumahnya dibangun semacam sumur sedalam lima meter dan bangunan bertutup bulat seperti tempurung kelapa yang hampir rata tanah dan berkedalaman dua meter. Instalasi ini untuk mengolah air limbah secara sederhana. Di samping sumur, terdapat pipa penyalur gas yang dihasilkan dari limbah tahu. ”Saya hanya menyediakan tanah 10 x 10 meter persegi untuk tempat instalasi. Sebenarnya ini bisa buat dua pabrik, tetapi karena jarak pabrik berjauhan, sulit dilakukan,” ujar Sumidi.

Perajin tahu lainnya, Budi Amiarso, juga gembira menerima bantuan IPAL biogas lima bulan lalu. Ada lima rumah yang memanfaatkan biogas limbah tahunya untuk memasak dan menyalakan petromaks. ”Biasanya lima liter minyak habis untuk tiga hari. Sekarang 15 hari belum tentu habis,” kata Haryono, kakak Budi yang juga memanfaatkan biogas.

Ia juga memanfaatkan biogas untuk menyalakan petromaks. Namun, petromaks biogas hanya digunakan bila listrik padam. Selain menghasilkan biogas, limbah akhir yang dihasilkan lewat IPAL biogas tidak berbau dan lebih cair. Perajin tahu biasanya membuang limbah pembuatan tahu tanpa diolah ke sungai ataupun ke selokan yang berakhir di persawahan.

Sebenarnya keluhan warga sekitar bukan tidak muncul terhadap limbah tahu yang dibuang begitu saja. Namun, karena sebagian besar warga mendirikan usaha pembuatan tahu, kondisi itu seperti dimaklumi. Sayangnya, teknologi IPAL biogas ini makan biaya besar sehingga sulit dijangkau perajin yang kebanyakan berskala usaha rumah tangga. Padahal, mereka berminat menerapkan model IPAL biogas yang lebih ramah lingkungan dan bermanfaat. (Sri Rejeki)

http://www.kompas.co.id/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.02.27.03472538&channel=2&mn=162&idx=162
Rabu, 27 Februari 2008 03:47 WIB

Kamis, Desember 27, 2007

Penolak PLTS Diharapkan Dengar Penjelasan Pemkot

Penolak PLTS Diharapkan Dengar Penjelasan Pemkot

Laporan Wartawan Kompas Mohammad Hilmi Faiq.

BANDUNG, KOMPAS - Para penolak pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah atau PLTS diminta untuk mendengarkan penjelasan Pemerintah Kota Bandung dengan seksama. Pemerintah Kota Bandung bisa meyakinkan bahwa PLTS aman bagi warga karena semua potensi pencemaran telah direduksi dengan teknologi canggih sehingga kadarnya di bawah ambang batas.

Ketua Tim Studi Kelayakan PLTS dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Ari Darmawan Pasek mengatakan hal itu di Bandung, Minggu (16/12). “Kalau masyarakat yang menolak (PLTS) itu mau mendengarkan dan berdiskusi pasti bisa diyakinkan. Masalahnya, mereka itu tidak mau berdiskusi,” kata Ari.

Kalaupun mau berdiskusi, kata Ari, hasilnya dipelintir. Ini misalnya terjadi pada diskusi tertutup antara PT Bandung Raya Indah Lestari (PT BRIL) selaku pengembang PLTS dengan perwakilan Aliansi Rakyat Tolak PLTS (ARTP).

Secara terpisah, Koordinator Umum ARTP Roni Muhammad Tabroni membantah pihaknya terlibat diskusi dengan PT BRIL. “Memang kami pernah bertemu dengan PT BRIL, tetapi hanya ngbrol biasa. Tidak ada dialog serius tentang PLTS,” kata Roni. Roni menjelaskan, penyataan Ari tersebut hanya memperkeruh suasana. Sebenarnya, kata Roni, pihaknya siap selalu diajak berdialog. Akan tetapi, Pemerintah Kota Bandung yang tidak melibatkan warga kontra PLTS dalam dialog. “Dalam sosialisasi tentang PLTS di Pendopo Kota Bandung (Jumat, 14/12), kami tidak diundang,” kata Roni.

Sumber :
http://www.kompas.com
Minggu, 16 Desember 2007 - 21:48 wib

Sabtu, Desember 15, 2007

Kenapa Tak Mencoba Tenaga Angin

Kenapa Tak Mencoba Tenaga Angin

Penulis : Korano Nicolash LMS.

Di beberapa negara Eropa Barat, khususnya di Belanda, listrik tenaga angin merupakan hal yang lazim dimanfaatkan. Itu sebabnya kadang sepanjang perjalanan menelusuri "Negeri Kincir Angin" maupun beberapa negara di Eropa Barat itu tidak sukar untuk menyaksikan kincir angin yang lebih modern. Tentunya kincir angin yang dimanfaatkan untuk pembangkit listrik tenaga angin.

Bedanya kincir angin modern untuk pembangkit listrik tenaga angin ini dengan kincir angin penggiling gandum sangat jelas. Kalau kincir angin penggiling gandum itu terbuat dari rangkaian kayu serta memiliki empat bagian baling-baling. Di samping itu juga kincir angin ini akan terlihat berikut gudang tempat penggilingan gandumnya. Adapun baling-baling untuk pembangkit listrik ini hanya berupa tiang putih yang terbuat dari besi serta memiliki tiga baling-baling saja. Untuk beberapa produk yang baru bahkan ada yang tiang dan baling-balingnya terbuat dari fiber. Dengan demikian beratnya pun jauh lebih ringan.

"Di sini, pemilik satu kincir angin pembangkit listrik itu biasanya justru petani. Karena mereka tinggal pada daerah yang terpisah-pisah. Biasanya mereka dalam bentuk kelompok. Mungkin di Indonesia seperti koperasi petani. Jumlahnya bisa mencapai sepuluh keluarga atau bahkan sampai empat puluhan keluarga," tutur Pieter Franqis Veetman, warga Groningen, Belanda. Karena mereka menggunakan pembangkit listrik tenaga angin, lanjut Veetman, tentu penggunaan bahan bakar minyak (BBM)-nya pun makin berkurang. "Memang ini salah satu upaya mereka untuk mengurangi penggunaan bahan bakar minyak," katanya.

"Itu sebabnya sehari-hari mereka paling hanya menggunakan BBM untuk traktor pembalik tanah, penanam sekaligus pemanen hasil tanaman mereka. Serta untuk kendaraan pribadi," ujar Veetman. Adapun penggunaan pembangkit listrik tenaga angin ini sudah dimulai sejak tahun 1979. Dan, salah satu keunggulan pembangkit listrik tenaga angin ini, tambah CD Kessing, warga lainnya, karena setiap satu tiang pembangkit listrik tenaga angin ini bisa bertahan penggunaannya selama 25 tahun. "Itu ukuran penggunaan minimal yang ditetapkan perusahaan pembuatnya. Tentu kalau perawatannya bisa lebih baik lagi usia pembangkit listrik tenaga angin ini jelas akan lebih lama lagi," kata Kessing, warga Krommenie, Belanda. Ini artinya selama 25 tahun itu pula masalah listrik tidak lagi menjadi bahan pikiran. Satu hal yang lebih istimewa, yakni mereka telah melakukan pengiritan bahan bakar minyak. "Serta tentu semuanya akan lebih ramah lingkungan," kata Guru Besar Perguruan Pencak Silat Manyang di Eropa.

PLN

Rasanya tidak salah kalau di Indonesia, melalui Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang memonopoli jasa listrik di Nusantara, untuk mulai memikirkan kemungkinan penggunaan pembangkit listrik tenaga angin tersebut. Terlebih dalam kondisi BBM yang semakin langka yang selanjutnya memicu harga BBM melangit. Tentu apa yang dilakukan para petani di Negeri Kincir Angin, sana bisa dilakukan di negeri ini.

Bisa jadi akan sulit untuk dilakukan di Pulau Jawa yang memang sudah padat penduduk. Apalagi belakangan kerap terjadi angin puyuh. Tetapi, penggunaan pembangkit listrik tenaga angin mungkin saja bisa dimanfaatkan di luar Pulau Jawa yang memang hampir sebagian besar jasa listriknya hanya bergantung pada mesin-mesin diesel PLN yang umumnya memakai bahan bakar solar. Padahal, kalau melihat hasil laporan PLN tahun lalu, dijelaskan, untuk bahan bakar solar saja PLN harus mengeluarkan dana Rp 38,4 triliun per tahun. Itu untuk membeli 6,3 juta kiloliter solar. Dana tersebut akan terus membengkak seiring kenaikan harga BBM. Hal ini dimulai dengan kenaikan harga solar industri per Juni 2006 yang naik tiga kali lipat, menjadi Rp 6.100 per liter.

Pengeluaran PLN untuk penggunaan solar masih sangat tinggi, karena 17 persen dari pembangkit listrik PLN itu menggunakan mesin diesel. Sementara dari segi biaya, mesin diesel itu akan menyerap dana hampir 70 persen dari biaya bahan bakar. Kita sadari, memang ada beberapa kendala dalam menggunakan pembangkit listrik tenaga angin ini. "Hal yang utama itu, yakni masalah embusan angin yang kadang tidak menentu. Itu mungkin yang membuat PLN hingga saat ini masih belum terpikir untuk memperkenalkan penggunaan pembangkit listrik tenaga angin tersebut," kata Bambang Nugrohadi Waspada, salah satu staf PLN. Kalau hanya itu yang menjadi kendala, tentu bisa dilakukan survei terlebih dahulu. Rasanya tidak berbeda dengan pembuatan lapangan terbang yang harus lebih dulu dilakukan survei untuk penentuan landasannya yang sangat bergantung pada embusan angin di lokasi bersangkutan.

Penggunaan pembangkit listrik alternatif ini sebenarnya juga sudah mulai dilakukan di beberapa daerah di Indonesia, antara lain, seperti di Tanah Papua yang sudah sejak tahun 1990-an, dengan bantuan Pemerintah Negeri Kanguru Australia diperkenalkan penggunaan pembangkit listrik tenaga matahari (solar sel). Penggunaan solar sel ini cocok digunakan di Papua karena sesuai dengan situasi dan kondisi permukiman orang Papua yang tidak terpusat pada satu tempat saja. Tetapi tersebar di rawa-rawa, perbukitan, lembah dan gunung-gunung.

Hanya mungkin mereka tidak akan pernah menikmati lampu hemat listrik yang katanya akan dibagikan PLN. Sekalipun lampu hemat energi itu, kata Direktur Utama PLN Eddie Widiono, bakal mampu menghemat penggunaan bahan bakar sampai 0,75 kiloliter per tahun atau setara dengan Rp 3,8 triliun per tahunnya. Kalau memang mau irit, kenapa tidak sekaligus memanfaatkan tenaga angin yang gratis itu?

Sumber :
http://www.kompas.com/
Jumat, 14 Desember 2007.

Kamis, Desember 13, 2007

PLTS Harus Jauh dari Permukiman

PLTS Harus Jauh dari Permukiman

BANDUNG, KOMPAS - Pembangkit listrik tenaga sampah atau PLTS harus berada jauh dari Permukiman. Ini untuk mengurangi percemaran sekaligus menghilangkan kekhawatiran warga akan dampak langsung PLTS. Tokoh masyarakat perumahan Griya Cempaka Arum Asep Syamsul M Romli atau yang akrab dipanggil Romel mengatakan hal itu di Bandung, Selasa (11/12).

Pernyataan Romel ini berpijak dari hasil kunjungan dia bersama beberapa warga dan Wali Kota Bandung Dada Rosada ke PLTS di Singapura akhir pekan lalu. PLTS yang dikunjungi Romel yang rombongan antara lain Senoko Incinerator Plant dan IUT Singapore PTE Ltd di Singapura bagian barat.

Romel mengatakan, letak PLTS paling tidak berjarak empat kilometer dari Permukiman. Dengan demikian, tidak ada warga yang khawatir terkena dampak pencemaran dari PLTS tersebut. “Kalau terlalu dekat seperti PLTS di Gedebage yang jaraknya hanya 300 meter dari Permukiman wajar banyak warga yang protes,” ujarnya.

Menurut Romel, jarak Senoko Incinerator Plant dari permukiman sekitar 5 kilometer, sementera IUT Singapore PTE Ltd sekitar 3 jam perjalanan darat dari pusat kota. Sejak awal pembangunan dua PLTS ini tidak ada warga yang memrotes karena jauh dari rumah. Warga hanya sesekali mengingatkan pemilik pabrik kalau asap yang dihasilkan mulai menghitam.

Secara terpisah, Dada Rosada mengatakan, para warga memperoleh cakrawala baru tentang PLTS। Warga yang selama ini mendukung PLTS, semakin percaya bahwa PLTS aman। ”Setelah mendapat penjeelasan, mereka lebih percaya,” ujarnya. (MHF)
Sumber : KCM।Selasa, 11 Desember 2007 - 19:04 wib.

Dunia Sedang Lapar

Dunia Sedang Lapar

Penulis : Hermas E Prabowo


Saat ini dunia mengonsumsi minyak 225 juta barrel per hari. Dengan pertumbuhan ekonomi dunia seperti sekarang, diperkirakan bakal ada penambahan konsumsi rata-rata per tahun 1,6 persen atau setara 4 juta barrel. Mengacu perkiraan Badan Energi Internasional (IEA), konsumsi minyak dunia tahun 2030 akan naik 50 persen.

Konsumsi boleh saja meningkat seiring dengan pertumbuhan sosial dan ekonomi global, tetapi dari mana kebutuhan minyak dunia akan dipenuhi mengingat produksi minyak ada batasnya। Minyak fosil sendiri memberikan kontribusi 80 persen dari kebutuhan energi dunia.

Penurunan suplai minyak fosil akan mengimbas pada penurunan pasokan energi. Apabila permintaan dan penawaran minyak dunia semakin timpang, mobilitas akan terhambat. Mobilitas yang terhambat akan melemahkan persaingan, menurunkan produksi, mengurangi investasi, serta berdampak pada penurunan kesejahteraan dan kualitas hidup.

Saat ini harga minyak mentah dunia mendekati 100 dollar AS per barrel. Harga minyak mentah dunia yang semakin fluktuatif dan sensitif, menjadi indikasi makin menipisnya cadangan minyak dunia, yang mendorong terus berkurangnya eksportable surplus.

Kondisi ini tak bisa dianggap angin lalu. Pernahkah membayangkan bagaimana bila mendadak pabrik-pabrik berhenti beroperasi karena tidak ada pasokan minyak. Transportasi darat, udara, dan laut macet, serta pembangunan infrastruktur terhenti karena tak ada bahan bakar minyak.

Tak bisa dibayangkan berapa miliar pekerja yang mendadak menjadi pengangguran.
Lantas, bagaimana caranya agar mobilitas sebagai faktor penggerak penting kehidupan masyarakat modern bisa terus dipertahankan atau bahkan ditingkatkan. Tantangan ini yang dicari jawabannya dalam Challenge Bibendum Shanghai 2007, yang berlangsung 14-17 November 2007 di Shanghai, China. Acara ini digelar untuk yang kesembilan kalinya sejak 1998 dan untuk kedua kalinya di Shanghai.

Gerakan penyadaran

Menurut David Pirret, Wakil Direktur Utama Shell Lubricants, salah satu anak perusahaan Shell International Petroleum Company Ltd, Challenge Bibendum merupakan sebuah gerakan penyadaran bersama dari pemain otomotif DUNIA. Mereka antara lain pabrik kendaraan, rekanan teknis, pemasok energi, dan lembaga penelitian. Inisiatif gerakan ini datang dari produsen ban ternama, Michelin.

Tujuan gerakan ini antara lain bagaimana menyadarkan warga dunia agar mau menggunakan teknologi kendaraan dan energi tercanggih agar tercapai penggunaan bahan bakar yang efisien, ramah lingkungan dan aman.

Shell sebagai bagian dari pemain otomotif dunia, khususnya sebagai pemasok energi dan pelumas, amat menyadari pentingnya pasokan energi yang berdampak rendah pada emisi gas buang. "Shell menyadari bahwa perseteruan antara kebutuhan energi untuk mendukung mobilitas dan bahaya yang ditimbulkannya bakal terjadi di planet ini," kata David, di Shanghai.
Apa yang dikatakan David mengenai penggunaan minyak fosil berdampak pada perubahan iklim global benar adanya. Setidaknya penelitian dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) yang dirilis Februari 2007 menunjukkan bahwa Bumi semakin memanas.

Sepanjang abad 20, suhu Bumi naik 0,7 derajat Celsius. Apabila manajemen pengelolaan lingkungan, pencemaran udara, dan emisi gas buang tidak bisa ditekan, kondisi akan lebih buruk lagi. Setidaknya akan ada penambahan suhu Bumi 0,2 derajat Celsius tiap dasawarsa.

Naiknya suhu Bumi berdampak serius pada iklim global. Iklim amat dipengaruhi suhu panas Bumi sebagai akibat perubahan tekanan udara, yang menyebabkan terjadinya arus angin. Iklim yang berubah memengaruhi produksi pertanian, karena sektor pertanian amat bergantung pada kondisi iklim di suatu kawasan.

Upaya yang paling mungkin dilakukan adalah menjaga populasi warga dunia dan menetapkan pilihan yang tepat dalam penggunaan teknologi, seperti penggunaan bahan bakar batu bara, minyak fosil, dan pengembangan energi nuklir, atau penggunaan energi dari bahan bakar nabati yang dapat diperbarui.

Dampak perubahan iklim global akan sangat merepotkan negara-negara di DUNIA. Australia, misalnya, akan mengalami masa kekeringan, dan ini mengancam hasil pertanian mereka seperti peternakan sapi perah dan sapi potong. Dampak kekeringan di Australia tahun 2006 menyebabkan kenaikan harga susu bubuk hingga lebih dari 10 persen Harga gandum melonjak, begitu pula daging sapi.

Negara-negara di Eropa juga akan mengalami masalah serius akibat berubahnya iklim global. Hujan akan banyak turun di wilayah utara Eropa, sementara di belahan selatan akan terjadi kekeringan. Kondisi ini akan memicu pencairan es dan berdampak pada berkurangnya kunjungan wisatawan pada musim dingin.

Afrika juga akan mengalami ancaman kelaparan, bencana erosi dan banjir sehingga kondisi negara-negara di Afrika bakal makin buruk. Amerika Selatan pun tak lepas dari ancaman banjir, sementara produk pertanian di kawasan Amerika Utara bakal terganggu.

Indonesia juga tak bisa menghindar dari pengaruh perubahan iklim global. Buktinya, pada akhir 2006 kemarau panjang melanda sebagian besar wilayah Indonesia. Akibatnya, produksi beras jatuh, harga beras melonjak, dan masyarakat pun menjerit.

Daya beli yang tetap sementara harga komoditas pertanian cenderung meningkat, akibat permintaan dan penawaran tidak seimbang secara permanen dan terus-menerus, akan menyebabkan kualitas hidup warga Indonesia merosot.

Perubahan iklim global yang ditandai dengan peningkatan suhu Bumi memiliki dampak ekonomi dunia yang serius. Nicholas Stern, mantan ekonom dari Bank Dunia seperti dikutip Research Eu, sebuah majalah penelitian di Eropa, mengungkapkan bahwa perubahan iklim global akan memakan biaya 5.500 miliar euro pada tahun 2050.
Biaya

Biaya yang harus ditanggung sebagai dampak berubahnya iklim global itu melebihi biaya akibat Perang Dunia II. "Dengan catatan, ongkos perubahan iklim yang besar terjadi bila warga dunia tidak melakukan tindakan pencegahan apa-apa," katanya.

Lalu, siapa yang harus menanggung beban biaya yang amat besar itu। Jawabannya, seluruh warga dunia. Dampak perubahan iklim akan mengimbas seluruh negara di dunia. Negara miskin akan semakin miskin karena kalah bersaing dalam memperebutkan minyak dunia. Negara berkembang akan menanggung beban pengangguran yang makin membengkak akibat lemahnya perputaran roda ekonomi.

Daya beli masyarakat juga bakal merosot tajam karena semua produk untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari menjadi amat mahal. Untuk mengantisipasi itu, Uni Eropa telah mengalokasikan anggaran 50,5 miliar euro dalam kurun 2007-2013. Mereka berkonsentrasi pada program tujuh kerangka kerja atau Seventh Framework Programme yang dikenal dengan istilah FP7, yang fokusnya pada pembangunan, penelitian, dan teknologi.

Dari anggaran tersebut, 32 miliar euro di antaranya untuk mendukung penelitian, yang meliputi 10 bidang, yaitu kesehatan; pangan, pertanian, dan bioteknologi; teknologi informasi dan komunikasi; nanosciences, nanotechnologies, materials and new production technologies; energi; lingkungan meliputi perubahan iklim; transportasi; pengetahuan sosial-ekonomi dan kemanusiaan; ruang; dan masalah keamanan.

Juga disediakan anggaran 7,4 miliar euro untuk pembuatan ide cemerlang untuk landasan. Selain itu, 4,7 miliar euro untuk kegiatan ilmiah dan 4,2 miliar euro untuk kegiatan ilmuwan. Sementara 2,4 miliar euro untuk jaminan kebutuhan energi pada masa mendatang.

China sebagai negara yang sedang tumbuh pesat juga tak mau ketinggalan. Pekan lalu mereka membangun stasiun bahan bakar hidrogen sebagai upaya untuk menekan emisi gas buang. Maklum, pembangunan industri yang pesat di China menyumbang polusi udara yang hebat. Indonesia tentu juga bergiat menekan pencemaran udara. Misalnya dengan berkomitmen melakukan revitalisasi kehutanan. Indonesia sebagai negara yang memiliki hutan terbesar kedua di dunia, selama ini menjadi penyumbang oksigen yang besar untuk dunia.

Bagaimanapun, setiap negara harus berperan aktif untuk menekan penggunaan energi berbahan bakar minyak fosil. Caranya dengan sedini mungkin melakukan tindakan nyata dengan mengonversi energi fosil ke bahan bakar nabati. Kalau tidak, dunia yang sedang lapar energi ini bakal menyulitkan kita.

Sumber :
http://www.kompas.com/
Sabtu, 24 November 2007